3 Tahapan Ilmu

Table of Contents
Al-Imam Syafi'i rahimahullah menasihatkan:


العلم ثلاثة أشبار، فمن دخل في الشبر الأول تكبر، ومن دخل في الشبر الثاني تواضع، ومن دخل في الشبر الثالث علم أنه لا يعلم

"Ilmu itu memiliki tiga tahapan, maka barangsiapa yang baru sampai pada tahapan yang pertama maka ia akan bersikap sok-sokan/banyak gaya (merasa sudah berilmu), dan barangsiapa yang sampai pada tahapan yang kedua maka ia akan tawadhu' (bersikap rendah hati), dan barangsiapa yang telah sampai pada tahapan ketiga maka ia akan menyadari bahwa sejatinya ia belum mengetahui apa-apa (merasa bodoh)."

Yaitu pengamalan tawadhu' itu harus mengikuti contoh dari para sahabat, bukan dibawa ke pandangan pribadi atau mengecap seseorang "bahwa ma syaa Allah si fulan tawadhu" atau "si fulan tidak tawadhu'."

Tawadhu' tidaknya seseorang itu harus berdasarkan dalil, bukan penilaian dengan perasaan atau penilaian banyak orang.

Salah satu tanda seorang itu tawadhu' itu adalah 'tau diri dari kadar ilmu yang dimiliki', oleh karenanya ustadz palsu dan khotib palsu itu bukanlah orang tawadhu', karena berani tampil tanpa tau diri kadar ilmunya, meskipun pembawaannya nampak murah senyum, ramah dan sopan.

Seorang ketika bisa servis laptop, lalu ia mengaku sebagai orang yang bisa memperbaiki laptop, maka ia tetap sebagai orang yang tawadhu'.

Jangan sampai menilai seorang yang bisa keahlian tertentu dan ia mengaku serta mengiklankannya, disebut sebagai orang yang sombong!, maka ini keliru.

Dan jika ada orang yang menjelaskan kepada umat tentang kedudukan manusia sesuai kedudukan ilmu agamanya dan kedudukan dunianta itu bukan masuk  ke kategori sombong, namun ia sedang menjalankan perintah Allah dan Nabi-Nya.

Dan jika ada orang yang menjelaskan kepada umat tentang kedudukan manusia sesuai kedudukan ilmu agamanya dan kedudukan dunianya itu bukan masuk ke kategori sombong, namun ia sedang menjalankan perintah Allah dan Nabi-Nya.

Dan yang harus dihindari dari seorang ustadz dimana pun adalah tidak mengomentari program dakwah orang lain, waktu tempuh atau metode dalam menanamkanya kepada muridnya , misal: "saya mengajar pelajaran ini sekian tahun barulah muridnya bisa, masa hanya hitungan bulan kok bisa."

Kita menyamakan metode orang lain untuk sama dengan diri kita?.

Ya tidaklah demikian, setiap ma'had tahfidz yang sama dalam bidang Al-Qur'an itu saja berbeda dalam mengantarkan para santri dalam metode hafalannya, apalagi dalam pelajaran yang lain dan berbeda lembaganya.

Marilah berlindung dari tipu daya Iblis untuk menghancurkan persatuan kaum muslimin, terlebih khusus ukhuwah para du'at dengan berbaik sangka dengan metode dan program yang sedang dijalankan oleh da'i yang lain, bukan menyamakan pengalaman dengan metode dan waktu yang ia tempuh selama ini.

و الله ولي التوفيق

•┈┈➖•◈◉✹❒📖❒✹◉◈•➖┈┈•

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Posting Komentar