Bahayanya Ngaji Tanpa Arah
Table of Contents
Ngaji penginnya sama yang terkenal, katanya punya nama besar dan tampil di berbagai media.
Jika tak ada di embel-embel "Lc, MA & Dr" kurang suka dan kurang gimana gitu, walau banyak yang gak paham arti dari yang engkau gandrungi tersebut, ya kan?!.Ada ustadz kita menjelaskan haramnya Gopay dan Gofood atau sejenisnya, lalu ada ustadz kita juga sama-sama Doktor/S3 yang menjelaskan membolehkannya dengan jawaban yang rinci engkau juga ribut, bahwa menyebut yang lebih alim adalah Dr/S3 lah sebelah sono, begitu ringannya ucapanmu.
Namun ketika ada Dr/S3 hanya menukilkan fatwa ulama, lalu ustadz-ustadz tersebut dibilang "Ustadz Karbitanlah, fatwa bukan dalillah, inilah...itulah, " maunya kalian itu apa sih aslinya?!.
Ngaji itu bukan menuruti perasaan kita yang cocok dan enak saja, karena menuntut ilmu itu bukan kuliner, yang hanya mencicipi sana-sini saja, lalu pergi.
Selama jawaban-jawaban ustadz yang sedang kita ambil ilmunya masih cocok dengan kemauanmu dan hawa nafsumu, maka masih semangat ngajinya, namun ketika ustadz yang disenangi tersebut pernah membahas yang tidak disukai oleh panitia kajian dan jamaah yang ada ghil di hatinya, maka engkau provokatif untuk segera menjauh dari da'i tersebut dan tak mau hadir ke kajiannya, lebih kejam lagi menyebut bahwa "Ustadz itu manhajnya nggak kokoh lagi", gara-gara menjawab pertanyaanmu yang tak sesuai hawa nafsumu, terus dibilang manhajnya nggak kokoh lagi dan tak layak diambil ilmunya?!, waduh, jangan-jangan yang rusak itu hatimu sehingga peringaimu demikian keadaannya.
Begitu mudahnya engkau mengecap seorang da'i ahlu sunnah wal jama'ah yang mengikuti manhaj para sahabat, apakah ada contohnya perilaku dan sikap kalian dari para salafush shalih!?.
Asy-Syaikh Prof. Dr. Ibrahim Ar-Ruhaily hafidzahullah berkata : "seorang yang bertanya suatu masalah agama hanya mau kepada orang yang pasti akan mendukungnya, maka ketahuilah dia itu ahlul bid'ah," meskipun ia sibuk hadir di kajian dan sudah lama hijrah, namun perilakunya seperti yang Asy Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily nasihatkan. Wallahu Musta'an
Ketika ada ustadz kita menyampaikan bahwa uang pangkal sekolah itu tak boleh langsung dirimu girang dan menyalahkan pihak sekolah, dan manakala ada bantahan tentang hal yang serupa dari sama-sama Dr/S3 kalian ada yang ngeblok sana-sini, lo kok seperti penonton club bola ya?.
Kadang kalian mensyaratkan sesuatu yang tak disyaratkan dalam syariat, namun juga menghilangkan sesuatu yang kalian tidak memiliki hak untuk berbicara atau komentar.
Nikmatilah perbedaan para ustadz asli yang menjelaskan tentang suatu masalah dengan kita melihat sisi pendalilan serta kedalaman ilmu mereka sehingga kita mendapatkan banyak faidah, selama perbedaan itu bukan kaitan dengan bab aqidah, bukan malah ikut membully dan merendahkan salah satu diantara mereka.
Berselisih pendapat itu wajar, asalkan dalam ranah ilmiah dan tidak menyerang hal-hal yang sifatnya privasi.
Sahabat juga ada yang berselisih pendapat.
Ulama berselisih pendapat.
Apalagi sekelas ustadz, yang tentu ada perbedaan pendapat.
Dan begitu juga para da'i asli yang mengikuti jalan para sahabat, pastilah juga akan ada beda pendapat dalam urusan fiqh bukan karena beda pendapatan atau khawatir ketokohannya terganggu, dengan catatan tidak saling berpecah belah!.
Janganlah membuat sesuatu yang seharusnya tak menjadi besar gara-gara dirimu ngeshare dan debat kusir kalian di group-group WA dan medsos!, dan ingatlah bahwa "resiko ditanggung penumpang" yaitu yang bertanggungjawab atas reaksi dari yang engkau ngeshare baik itu sebuah artikel, poster dakwah, audio kajian mp3 atau video kajian pendek ke group-group WA atau medsos adalah resikomu dan tanggungjawabmu 100% karena engkau yang telah berbuat, jangan penulis artikel atau pemateri di video kajian yang disalahkan, dibully dan dijelek-jelekan namanya dan dakwahnya dengan gara-gara perbuatanmu!, oleh karenanya pahami dulu isinya dengan benar sebuah nasihat yang akan engkau share, jika ada pertanyaan atau reaksi yang muncul setelah engkau ngeshare nasihat, maka engkau bisa tanggungjawab dan menjelaskannya tanpa merepotkan lagi pematerinya dengan meminta bantuan bantahan atau jawaban dan penjelasan darinya.
Adanya perbedaan itu ambilah hikmahnya, bukan cacian dan merendahkan salah satu ustadz asli yang bermanhaj salaf!.
Hikmah sebuah perbedaan diantara para da'i yang bermanhaj salaf itu:
1. Menguji kedewasaan ilmu kalian, karena kedewasaan itu dengan ilmu bukan karena umurnya sudah tua.
2. Menguji sifat ilmiahmu atau hanya jago sekedar menukil kata "ustadz fulan."
3. Menguji dirimu itu taklid buta atau tidak?!.
4. Menguji dirimu mampu sabar dan legowo tidak?!.
5. Menguji dirimu agar tak terjatuh dalam adu domba antar Da'i.
Ingatlah!, manusia itu terbagi menjadi beberapa tingkatan:
a. Ulama.
b. Penuntut ilmu, dan penuntut ilmu terbagi menjadi 2:
• Penuntut ilmu khusus (ustadz atau yang sedang menempuh pendidikan menjadi da'i)
• Penuntut ilmu umum
c. Dan orang awam.
Sehingga tolong dudukanlah dirimu, jangan mengenakan pakaian ulama sementara dirimu hanya pencari ilmu biasa, bahkan maqomnya engkau masih orang awam!.
Yang sering terjadi itu aslinya pada jamaahnya yang kurang dewasa walau umurnya sudah pada dewasa dan sepuh dalam menyikapi perbedaan para ustadznya, adapun para ustadznya mah In syaa Allah pada mumpuni, tawadhu' dan saling mencintai karena Allah sesama mereka.
Para ustadz tuh susah ributnya, kalau tak ada yang jadi calo fitnah, contohnya : "ada jamaah bertanya satu hal sama namun ke banyak ustadz dengan alasan mencari keyakinan, padahal hal ini bisa termasuk dalam kategori adu domba antar ustadz bermanhaj Salaf."
Para ustadz itu pada super sibuk belajar, berdakwah, mengajar, mengurusi keluarga dan mengurus umat, kapan bisa ributnya kalau tanpa ada yang ngompori dan calo yang tak bermutu?!.
Stoplah ngomporin dan bikin gaduh para ustadz agar saling panas, saling perang, saling hasad dan ngebantah sesuai kemauanmu, dosa jariyah lah wahai engkau tukang fitnah!.
Hati-hati terjatuh adu domba para ustadz, karena daging (kehormatan) mereka beracun!, dan namanya racun pasti akan mematikan baik cepat atau lambat.
Sibukanlah belajar agama kepada ustadz asli yang mumpuni ilmu, lurus manhaj dan dengan tahapan dan cara serta jalan yang benar!.
Pelajarilah ilmu alat semisal nahwu shorof dan harus memiliki target sampai selesai, agar bisa mampu membaca kitab para ulama, jangan hanya menjadi jebolan saja di berbagai program bahasa arab dimana-mana, malulah karena sudah tidak zaman lagi model gituan!.
Sibukanlah meperbaiki ilmu, iman, akhlak dan adabmu yang sebenarnya dengam cara yang benar, wahai yang mengaku penuntut ilmu!.
Jika engkau minim ilmu dan bukan ahlu ilmu, maka jauhilah perdebatan, apalagi debat kusir di group-group WA dan medsos dengan modal debatnya hanya dengan "KATA USTADZ dan COPAS-an dari mbah google saja!."
Saudaraku yang saya cintai karena Allah dimanapun anda semua berada, jangan sampai diri kita; baik lisan atau tulisan kita menjadi penyebab musnahnya amal kebaikan kita dengan sebab menjatuhkan kehormatan muslim yang lain, apalagi yang dijatuhkan kehormatan seorang da'i ahlu sunnah wal jama'ah.
Biarkan ulama saling bantah sesama ulama secara ilmiah!.
Biarkanlah ustadz saling bantah sesama ustadz secara ilmiah!.
Karena para salaf juga saling bantah namun dengan ilmu, ilmiah dan mencari kebenaran, bukan mencari menang, apalagi debat kusir seperti di medsos dengan hanya bermodal copas dari mbah google, karena sibuk debat kusir di medsos ngaji sudah senior tak pernah lulus di kelas bahasa arab, disebabkan mengikuti yang lagi ramai dan trending di medsos. Rugi yakin rugi, jatah umurmu semakin berkurang, namun ilmu dari dulu gitu-gitu saja!.
Engkau itu ulama atau ustadz?!, kalau bukan salah satunya tolong dudukanlah maqommu dalam urusan ilmu, bukan makam ya karena itu kuburan!.
Ingatlah, riba yang paling besar adalah menjatuhkan kehormatan saudara muslim yang lain, apalagi seorang ustadz asli, sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
وَإنّ أَربَى الرِّبَا عِرضُ الرَّجُل الـمُسْلِم
"Dan riba yang paling besar adalah menjatuhkan kehormatan seorang muslim." (HR. Hakim: 2259, dishahihkan ad-Dzahabi)
Demikianlah sedikit penjelasan dari bahayanya ngaji tanpa arah.
Al-Ustadz Abdullah Zein, MA hafidzahullah menasihatkan dua hal besar kaitan tidak baiknya ngaji tanpa arah:
1. Tidak memiliki sekala prioritas dalam menuntut ilmu.
2. Dalam menuntut ilmu tidak bertahap dan sistematik.
Lebih suka dan gemar ngaji tematik, yang menyebabkan ilmunya tidak mateng, meskipun sudah kenal ngaji 10 tahun bahkan lebih senior dari itu.
Demikianlah sedikit penjelasan dari bahayanya ngaji tanpa arah.
Al-Ustadz Abdullah Zein, MA hafidzahullah menasihatkan dua hal besar kaitan tidak baiknya ngaji tanpa arah:
1. Tidak memiliki sekala prioritas dalam menuntut ilmu.
2. Dalam menuntut ilmu tidak bertahap dan sistematik.
Lebih suka dan gemar ngaji tematik, yang menyebabkan ilmunya tidak mateng, meskipun sudah kenal ngaji 10 tahun bahkan lebih senior dari itu.
Tidak terlarang ngaji tematik, namun bukan menjadi nutrisi utama dalam menuntut ilmu, karena yang membuat ilmu seorang itu naik perlahan adalah kajian kitab ulama secara rutin.
•┈┈➖•◈◉✹❒📖❒✹◉◈•➖┈┈•
و الله ولي التوفيق
•┈┈➖•◈◉✹❒📖❒✹◉◈•➖┈┈•
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين




Posting Komentar