Baper Boleh, Baperan Ya Jangan Dong!
Pertanyaan: siapakah orang yang lemah itu?.
Jawaban: orang yang suka mencari kelemahan mukmin lain.
Sebab Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka buruk (kecurigaan), karena sebagian dari berprasangka buruk itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.” (QS. Al Hujurat: 12)
Pertanyaan: siapakah orang yang salah itu?.
Jawaban: orang yang gemar mencari kesalahan mukmin lain.
Sebab Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةُِ
"Barangsiapa yang menutup aib muslim yang lain, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat kelak." (Muttafaqun 'alaihi)
Pertanyaan: siapakah pemakan riba yang paling tinggi itu?.
Jawaban: orang yang menjatuhkan kehormatan mukmin lain.
Sebab Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
الرِّبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُونَ بَابًا؛ أَيْسَرُهَا مِثلُ أَن يَنْكِحَ الرَّجُل أُمَّه، وَإنّ أَربَى الرِّبَا عِرضُ الرَّجُل الـمُسْلِم
"Riba itu ada 73 pintu, yang paling ringan, seperti orang yang berzina dengan ibunya. Dan riba yang paling riba adalah merusak kehormatan seorang muslim." (HR. Hakim No.2259 dan dishahihkan ad-Dzahabi)
إِنَّ مِنْ أَرْبَى الرِّبَا الاِسْتِطَالَةَ فِى عِرْضِ الْمُسْلِمِ بِغَيْرِ حَقٍّ
"Sesungguhnya diantara bentuk riba yang paling parah adalah menjatuhkan kehormatan seorang muslim tanpa hak." (HR. Abu Daud no.4878 dan dishahihkan al-Albani)
Pertanyaan: siapakah orang yang bodoh itu?.
Jawaban: Orang yang hobi mengungkit masa lalu mukmin lain.
Sebab Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap manusia pasti terjatuh dalam dosa. Dan sebaik-baik dari orang-orang banyak dosa adalah orang-orang yang segera bertaubat.” (HR Tirmidzi, no. 2499; Ibnu Majah, Ahmad, Darimi; dari sahabat Anas bin Malik).
Jika masa lalu seorang mukmin yang sudah bertaubat itu adalah sebuah dosa dan maksiat saja tidak boleh diumbar dan diungkit-ungkit, apa lagi jika masa lalu seseorang bukanlah dosa dan maksiat, contoh:
1. Sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu 'anhu mantan penuang arak (minuman keras), kita tidak pernah mendengar bahwa Sahabat yang lain memanggil beliau dengan sebutan: "Hai mantan penuang arak...!.
Tidak pernahkan?, lalu?!.
2. Al-Imam Fudail bin Iyadh rahimahullahu seorang ulama mantan perampok, kita tidak pernah mendengar bahwa ulama yang lain memanggil beliau dengan sebutan: "Hai mantan perampok!.
Tidak pernahkan?, lalu?!.
Dan masih banyak contoh yang lain, intinya adalah tidak ada istilah mantan dan mantan.
Seharusnya mukmin yang baik adalah seorang yang senang kalau saudaranya berubah lebih baik; apakah saudaranya itu mantan pemulung, tukang parkir, sales, tukang sol sepatu, tukang ojeg, satpam, buruh pabrik, atau apalah yang rendah dari itu, sementara pekerjaan yang dulu adalah sesuatu yang halal, maka tidak pantas diungkit-ungkit dan diremehkan. Dan barangsiapa yang mengungkit-ungkit dan meremehkannya, maka ia telah terjangkit penyakit hasad.
Pertanyaan: siapakah orang yang kepedean itu?.
Jawaban: Orang yang mudah baperan dengan karya atau tulisan mukmin lain.
Janganlah diri kita ini kepedean jika ada nasihat di majelis ilmu, sebuah artikel, poster, audio mp3, video dakwah atau media yang lain. Seakan-akan nasihat itu hanya ditunjukkan secara khusus ke diri kita, memangnya seberapa spesial, hebat dan pentingnya diri kita kok harus ada nasihat secara khusus, jika kebetulan sebuah nasihat menyentil dan menusuk hati kita, maka gembiralah!.
Lo kok gembira?!.
Ya iyalah gembira, berarti Allah sayang kepada kita dengan mengingatkan melalui wasilah hadir ke kajian, baca artikel, mendengarkan khutbah jumat, Idul Fitri, Idul Adha atau hal yang lain.
Jadi jangan baperan dong! apalagi malah membenci dan memusuhi pemateri yang telah menyampaikan nasihat, beliau-beliau para da'i hanya wasilah saja, yang menusuk dan menyentil hatimu itu aslinya Allah Jalla wa 'Alla, sehingga membenci dan menfitnah da'i yang menyampaikan nasihat dengan ilmu adalah sebuah mara bahaya pelakunya, karena daging (kehormatan) ulama dan orang-orang berilmu itu adalah beracun.
Ingatlah sifat Al-Qur'an ada dua:
1. Pemberi peringatan.
2. Dan Pemberi kabar gembira.
Memberikan peringatan bagi yang melakukan kesalahan dan memberikan kabar gembira bagi yang melakukan kebaikan dan kebenaran.
Jika seorang langsung baperan dan langsung reaksi itu, maka itu adalah tanda bahwa dirinya memang pelaku pelanggaran dari sebuah isi nasihat yang ada dalam kajian, artikel, poster dakwah, audio kajian atau video dakwah, maka harusnya dia gembira dan segera berubah karena dapat pencerahan, bukan malah ngambek, ngomel-ngomel dan merasa dikuliti!.
Karena yang menendang, menampol bahkan yang menusuk hatimu itu adalah Allah Yang Maha Menguasai segala sesuatu, bukan da'i yang menyampaikan nasihat, karena da'i/ustadz itu sama sekali tak memiliki kemampuan untuk membuat hati seseorang itu tertendang, kecuali Allah sendiri yang menyebabkan hal tersebut, agar manusia kembali ke jalan yang benar dan selamat di dalam menjalani kehidupan dunianya. Sehingga janganlah ngambek, marah dan dongkolnya kepada da'i/ustadz yang menyampaikan dakwah!, jika memang berani silahkan marah kepada Allah yang menusuk hatimu dengan wasilah nasihat yang datang dari seorang da'i/ustadz!, karena dia itu hanya penyambung dakwah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sesuai pemahaman sahabat radhiallahu 'anhum.
Setiap hari engkau meminta kepada Allah minimal 17 kali sehari semalam dengan membaca:
ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ
"Tunjukanlah kami jalan yang lurus." (QS. Al-Fatihah: 6)
Jangan engkau meminta jalan yang lurus tiap hari, namun ketika Allah memberikannya melalui hadir di kajian, membaca artikel, poster, audio atau video dakwah, lalu engkau lari dan menghindar.
Sungguh hal ini adalah keanehan yang nyata, engkau yang meminta ditunjukan 'jalan yang lurus,' namun ketika Allah memberikannya engkau malah baperan, menghindar dan lari, bahkan malah mendatangkan dosa dengan menuduh kepada pemberi nasihat bahwa sebagai orang yang keras, kaku dan tidak berperasaan.
Ingatlah, nasihat yang sampai kepadamu itu aslinya adalah doamu yang dikabulkan, maka janganlah baperan!.
Manakala penjelasan ini sampai kepada siapasaja yang membacanya, namun tetap baperan dan tak peduli dengan penjelasan ini, maka ini adalah bukti bahwa hidayah taufik itu memang sangat mahal. Nabi shallallallahu 'alaihi wa sallam saja tidak bisa memberikan hidayah taufik kepada pamannya yang beliau cintai, yaitu Abu Thalib ketika menjelang sakaratul maut, apalagi penulis yang fakir ilmu dan amal.
Semoga Allah menetapkan hati kita diatas sunnah Nabi shallallahu 'alaihi sallam dengan pemahaman sahabat yang sebenarnya. آمين
•┈┈➖•◈◉✹❒📖❒✹◉◈•➖┈┈•
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين




Posting Komentar