Mencintai Ilmu Adalah Tolak Ukur Kebaikan Seorang Muslim

Table of Contents


Mencintai ilmu itu adalah tolak ukur seorang muslim itu apakah dirinya ada kebaikan atau sebaliknya.

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menasihatkan:

من لا يحب العلم لا خير فيه

“Barangsiapa yang tidak mencintai ilmu, maka tidak ada kebaikan pada dirinya.” (Ibnu Hajar, Tawâlît Ta'nis, 167)

Dengan sebab ilmu, seorang hamba akan:

1. Paham kewajiban-kewajibannya sebagai seorang hamba.

2. Baik sholat dan ibadahnya.

3. Berbakti kepada orangtuanya.

4. Tambah baik lisannya.

5. Baik muamalah sesama makhluk sesuai tuntunan agama bukan menurut adat setempat.

Begitu juga sebaliknya, seorang yang tidak mencintai ilmu bahkan ada yang sampai membubarkan kajian ustadz asli (mampu mengajar kitab ulama yang arab gundul) dan sebagai dalang dalam pembubaran sebuah majelis ilmu, maka pada dirinya tidak ada kebaikan, meskipun ia nampak orang yang ramah, murah senyum, disebut dan dikenal sebagai orang bermasyarakat, semua itu hanyalah sia-sia jika membenci kegiatan dan dakwah ustadz asli.

Sehingga adanya majelis ilmu semakin dekat dari rumahnya, maka lebih wajib untuk dihadiri, bukan malah ada majelis ilmu yang dekat dengan rumahnya, dia malah memilih menyimak ceramah kajian umum di online, maka ini fenomena yang tidak benar.

Karena seorang menyimak kajian di online dengan offline keutamaan, ilmu, paham sangat jauh berbeda. Yang menyimak online tidak mendapatkan doa dari para Malaikat, dan doa mereka hanya untuk yang hadir secara langsung di majelis ilmu.

Kecuali engkau wahai pembaca mengikuti kelas khusus online, maka kelas khusus yang telah engkau pilih wajib lebih diutamakan dari semua kegiatan ilmu yang sifatnya kajian umum.

Jangan pernah tinggalkan kelas khusus yang engkau pilih, lalu engkau memilih untuk hadir di kajian umum!.

Karena salah satu kebaikan mencintai ilmu adalah dirinya akan mencintai orang yang berilmu atau yang mengajarkan ilmu dengan menghormati, memuliakan, membantu tanpa harus diminta, mengunjungi dan menjaga kehormatan nama baiknya.

Tidak disebutkan dan disyaratkan bahwa seorang yang mengajarkan ilmu agama itu harus terkenal dan sering muncul di berbagai media.

Penuntut ilmu harus belajar dan mengambil ilmu dari seorang guru agama (ustadz asli yang mampu baca dan mengajarkan kitab ulama yang arab gundul) yang mumpuni ilmunya, bukan menjadi syarat seorang yang mengajarkan ilmu harus terkenal di berbagai media masa dan banyak jamaahnya, karena ada Nabi yang nantinya datang di hadapan Allah pengikutnya sedikit bahkan ada yang tidak sama sekali tanpa ada pengikutnya, apakah dakwah yang jamaahnya sedikit itu gagal?, tidak sama sekali, karena sekelas Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah saja beliau pernah menunggu jamaah di sebuah masjid sampai tertidur karena kecapaian, dan sampai akhir waktu tidak ada yang datang sama sekali.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

معلم الخير يستغفر له كل شيء حتى الحيتان في البحر

“Seluruh makhluk Allah mendoakan kepada para pengajar ilmu agama, sampai ikan-ikan yang ada di lautan ikut mendoakan.” (Shahihul Jâmi’)

Di dalam hadits di atas tidak disebutkan ustadz yang mengajarkan ilmu agama itu harus terkenal dan ceramahnya muncul di berbagai media, namun setiap penuntut ilmu itu wajib belajar kepada ustadz asli yang mumpuni ilmunya dan mengamalkan ilmunya, baik beliau-beliau memiliki gelar akademik atau tidak, intinya mumpuni di bidangnya, maka ambilah ilmunya.

Begitu pula, jangan pernah dekat dan belajar kepada da'i yang merasa sebagai perintis dakwah dan merasa senior, namun kegiatannya merusak ilmu, iman dan akhlak kaum muslimin, meskipun dia sebagai ustadz asli (mampu baca kitab arab gundul)!, banyak yang sebelum hadir ke majelisnya itu lisannya pada baik dan peringainya juga baik, namun setelah kenal dan hadir di majelis da'i tukang fitnah seperti ini, malah tambah rusak lisannya, jadi sales fitnah, bermuka dua, hasud hasad, pengecut, menumbalkan muslim lain dan cuci tangan dari masalah yang diperbuatnya, yang perempuannya buka tutup cadar, bersumpah dusta, bersaksi dusta, tidak bisa tabayyun, menjadi tajjasus, menghancurkan kehormatan muslim lain yang pernah bersama menjadi timnya di lembaga yang ia kelola. Jika seorang muslim yang keliru memilih majelis ilmu ustadz asli saja bisa rusak ilmu, iman dan akhlaknya, lalu bagaimana yang bergaul dan hadirnya (dengan alasan tak enak karena kenal atau sama-sama pengurus DKM) kepada ustadz palsu dan mengundang khotib palsu, maka pasti akan lebih parah kerusakan ilmunya, imannya dan akhlaknya!.

Jangan seorang penuntut ilmu mensyarakatkan sesuatu yang bukan bagian dari yang disyaratkan dalam belajar ilmu agama!.

Yang harus dihindari oleh setiap yang menuntut ilmu yaitu maunya hadir di kajian hanya kepada ustadz-ustadz yang memiliki gelar dan terkenal saja, ini merupakan tanda tidak pahamnya seseorang dalam menuntut ilmu.

Setiap penuntut ilmu wajib untuk berguru kepada ustadz asli yang mumpuni ilmunya, lurus manhajnya, amanah dan mengamalkan ilmunya sebelum diajarkan ke murid-muridnya dan jamaah kajiannya.

Sehingga jangan sampai hanya mau hadir di majelis ilmu kepada ustadz yang terkenal di youtube atau medsos saja, karena semacam ini adalah jebakan Iblis agar kaum muslimin terjauhkan dari majelis ilmu di sekitar tempat tinggalnya.

Ustadz kibar itu adalah sifat seorang da'i yang Rabbani, adapun ustadz terkenal disebut ustadz ma'ruf.

Ustadz kibar belum tentu terkenal, karena kibar itu metode pengajarannya kibar sesuai yang dicontohkan oleh para salafush shalih.


             •┈┈➖•◈◉✹❒📖❒✹◉◈•➖┈┈•

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Posting Komentar