Salah Mengambil Guru Dalam Menuntut Ilmu Agama Akan Berakibat Sengsara Kepanjangan
Ada seorang da'i yang terkenal sebagai da'i yang baik, namun pengajarannya hanya bernilai senang-senang, rutinitas saja dan tidak berani untuk nahi mungkar selama bertahun-tahun dan terbukti mendiamkan kemungkaran ketika temannya menjadi ustadz palsu bertahun-tahun lamanya juga, lalu da'i tersebut menjadi wasilah ta'arruf di bulan ramadhan 1445 setelah kajian yang ia menjadi pematerinya di Masjid Kaliwadas, Bodeh, Pemalang, yaitu antara ikhwan yang sangat polos dan akhwat (sebatas sebutan) dan singkatnya sampai menikah.
Betapa kagetnya luar biasa berbalik 180° setelah menikah, informasi yang didapatkan sebelumnya dari da'i tersebut bahwa perempuannya itu tak butuh dengan urusan uang dan tujuan utama ingin ada suami yang membimbing agama untuknya, karena perempuan tersebut sudah memiliki pemasukan atau usaha sendiri, namun setelah menikah pembahasan utamanya malah uang dan uang.
Ketika yang dirasakan berbeda jauh dari yang diinformasikan, maka dikonfirmasi ke da'i tersebut dari kenyataan yang dihadapi tidak sesuai dengan informasinya, maka dengan ringannya dia hanya menjawab; *"pas ta'arruf pakai cadar, ya kirain baik luar dalam"*, itu lah dampak alim ummah (da'i yang hanya mengikuti kemauan panitia dan jamaahnya saja) yang pengajarannya hanya rutinitas dan senang-senang, tanpa ada perubahan yang mendasar kaitan ilmu, iman dan akhlak. Dan ketika dia menjadi wasilah ta'arruf tanpa menemput tastabut yang sebenarnya dan mudah menyimpulkan bahwa perempuannya itu baik karena mengenakan cadar ketika ta'arruf, padahal faktanya masih buka tutup cadar.
Yang menjadi wasilah dan tidak melakukan tatsabut dengan benar itu adalah Muhammad Nashrullah, mantan pengajar Mu'adz bin Jabal Pekalongan.
Masa hanya sekedar patokan cadar, sudah dihukumi baik tanpa meniliti lebih dalam?.
Wallahul musta'an.
Dan dia juga adalah orang yang menumbalkan pengasuh DIT dulu ketika mengajar bareng, dia minta bantuan untuk dibela, namun setelah dibela mati-mati perilakunya mala 'susu dibalas dengan air tuba'.
Dan dia juga berdiam diri dari kejahatan agama yaitu adanya ustadz palsu yang tidak lain adalah teman dekatnya sendiri, dan dia memang tidak nampak secara tampangnya memiliki perilakunya seperti itu (di pandangan orang awam), jika pencitraan itu mudah dilihat oleh setiap kaum muslimin, maka yang sudah ngaji pasti akan berhati-hati dalam memilih hadir di kajian yang katanya kajian sunnah, kajian tauhid atau kajian salaf.
Tulisan ini adalah bentuk sayang kepada saudaranya agar berubah, jangan menjadi da'i pencitraan lagi yang merusak fitrah kaum muslimin dan dirinya, dan juga tulisan ini adalah hak jawab dari korban yang bertahun-tahun dari pencitraannya di depan orang-orang yang katanya sudah hijrah, namun perubahannya belum dirasakan.




Posting Komentar