Hukum Suami Takut Kepada Istrinya?
Belajar aqidah dan tauhid harus ada buahnya dalam kehidupan sehari-sehari seorang muslim, salah satu buah ngaji aqidah dan tauhidnya benar adalah seorang suami itu wajib mampu menjadi pemimpin keluarganya dalam urusan mengatur serta mendidik istri dan anak-anaknya dengan ilmu agama yang benar, mengatur keuangan dan mengawasi dengan siapa istri dan anak-anaknya bergaul dan bermualamahnya mereka. Jangan sampai malah terbalik yaitu istri yang mengawasi suaminya, ini keliru, dan tak bermanfaat dirinya belajar aqidah dan tauhid, jika ia dikuasai istrinya dan takut dari pasangannya.
Suami wajib meneliti isi hp istri dan anak-anaknya, namun seorang istri tak boleh meneliti dompet dan hp suaminya.
Tugas dan kewajiban suami itu memutuskan bukan diputuskan oleh pasangannya.
Tugas dan kewajiban suami itu mengatur bukan diatur oleh pasangannya.
Tugas dan kewajiban suami itu mengkondisikan bukan dikondisikan oleh pasangannya.
Tugas dan kewajiban suami itu mengijinkan bukan diijinkan oleh pasangannya.
Tugas dan kewajiban suami itu mengontrol bukan dikontrol oleh pasangannya.
Tugas dan kewajiban suami itu mendidik bukan dididik oleh pasangannya.
Tugas dan kewajiban suami itu menjatah uang bukan dijatah uang oleh pasangannya.
Tugas dan kewajiban suami itu menentukan bukan ditentukan oleh pasangannya.
Suami itu pemimpin dalam rumah tangganya, sehingga tidak boleh suami takut kepada istrinya.
Seorang istri akan masuk Surga, jika ia taat dan berbakti kepada suaminya.
Adapun suami akan masuk Surga, jika ia mengutamakan kedua orangtuanya dan berbakti kepada bapak dan ibunya.
Allah Jalla wa 'Alla mewajibkan para suami untuk menjaga dirinya, istrinya dan keluarganya dari api Neraka:
قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
"Jagalah dirimu (wahai suami) dan keluargamu dari api Neraka." (QS. At-Tahrîm : 6)
Dan Allah Jalla wa 'Alla berfirman:
الرِّجَال قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ
"Laki-laki itu adalah pemimpinnya wanita." (QS. An-Nisa' : 34)
Jika ada seorang suami dikuasai istrinya dan dirinya itu takut memutuskan sesuatu jika tidak menyampaikan ke pasangannya, maka ini adalah tanda bahwa fitrahnya sebagai laki-laki rusak, aqidah dan tauhidnya rusak dan imannya sangat mengkhawatirkan, meskipun ia nampak sibuk hadir ngaji pembahasan aqidah dan tauhid.
Ngaji aqidah dan tauhidnya harus bisa menghasilkan rasa takutnya hanya kepada Allah saja, haram hukumnya takut kepada selain-Nya, apalagi malah takutnya kepada seorang istri, yang seharusnya dia yang wajib hormat dan taat kepada suaminya.
Akan mengeluarkan infaq dan shodaqoh ia berkata: "mau dimusyawarahkan dulu kepada istrinya."
Akan mendaftar di program ilmu khusus ia berkata: "mau dimusyawarahkan dulu kepada istrinya."
Akan membayar SPP untuk dirinya tepat waktu ia berkata: "mau dimusyawarahkan dulu kepada istrinya."
Kenapa suami model gini sering berkata: "mau dimusyawarahkan dulu kepada istrinya?."
Karena ilmu dan imannya rusak, sehingga amalnya, akhlaknya, muamalahnya, janjinya dan ucapan 'in syaa Allah' nya juga rusak.
Apakah suami yang takut kepada istrinya ada contohnya?.
Ada contohnya dari orang-orang musyrikin Quraisy, ketika di sebuah peperangan panglima perangnya mereka itu sengaja membawa para istri pasukannya, agar ketika ada pasukan yang akan mundur dari perang, maka akan dibully dan diledek oleh istrinya masing-masing. Tidaklah mereka berangkat dan maju perang kecuali karena takut diledek dan dibully oleh istri mereka.
Jika sebuah keluarga yang mendominasi, menguasai, mengatur, mengontrol dan menentukan itu adalah seorang wanita yaitu si istri, maka keluarganya tidak akan pernah baik dan bahagia, dan si suami mendapatkan dosa karena takut kepada istrinya.
Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً
"Tidak akan pernah beruntung sebuah kaum yang menyerahkan urusannya kepada wanita." (HR. Bukhari)
Seorang suami yang takut kepada istrinya tidak akan memiliki aqidah, tauhid dan manhaj yang benar, dan ia tak akan pernah sukses belajar bahasa arab, karena imannya rusak. Tidak mungkin seorang yang rusak imannya akan sukses dalam berjihad menuntut ilmu khusus semisal kelas bahasa arab.
Karena Asy-Syaikh Al-'Ushoymi hafidzahullah menasihatkan:
العلم للأبطال لا يصلح للبطال
"Jihad menuntut ilmu agama (sesuai contoh dari para shalafush shalih) itu hanya untuk para kesatria tak pantas untuk para pengecut dan para pecundang."
Hal yang sangat penting yang harus diperhatikan oleh para penuntut ilmu dimana pun berada, yaitu hindari belajar agama kepada da'i ahlul fitan dan juga dikuasai oleh istrinya, semisal Abu Hudzaifah Tasiwan, M.Pd pimpinan pesantren Mu'adz bin Jabal Pekalongan.
Hasil didikannya itu memunculkan banyak kejelekan dan kerusakan:
1. Dia membolehkan buka tutup cadar, sehingga para muslimah yang hadir ke halaqohnya itu perilakunya hampir keseluruhan buka tutup cadar, dengan alasan "nggak apa-apa, sambil belajar", bahkan ada seorang perempuan yang tertipu fatwa sesatnya selama 10 tahun lebih sampai dia meninggal dunia masih melakukan buka tutup cadar.
2. Yang pada hadir di halaqohnya itu fitrahnya berubah menjadi rusak, imannya rusak, akhlaknya rusak, lisannya tambah jahat, menjadi sales fitnah, ikut adu domba, bermuka dua, pengecut, janjinya tidak bisa dipegang, ikut menghancurkan kehormatan muslim lain dan tidak memiliki ilmu tabayyun yang benar.
3. Laki-laki yang hadir di halaqohnya itu rata-rata dikendalikan istrinya (suami takut istri), dan sang mudir ini juga termasuk da'i yang dikendalikan istrinya, sehingga hasilnya banyak zalim ke muslim yang lain.
4. Dan berbagai kejelekan yang lain, dikarenakan hatinya menjadi rusak disebabkan salah berguru kepada da'i ahlul fitan semisal sang mudir.
و الله ولي التوفيق
•┈┈➖•◈◉✹❒📖❒✹◉◈•➖┈┈•
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين




Posting Komentar