Menjawab Tuduhan Kasmudi Oknum Muhammadiyah
Kasmudi itu adalah oknum warga Muhammadiyah yang tidak tahu sejarah pendirian Masjid At-Taufiq, Dusun Swangan, Desa Kwasen, Kesesi, Pekalongan 51162.
Akun facebooknya yang menebar fitnah dan tuduhan adalah @Muhammad Kasmudi .
Ketika Kasmudi menjadikan poster 'Stategi Salafi Kudeta Masjid Milik Muhammadiyah' itu di story FB pribadinya dan ketika ada ikhwan yang tabayyun story itu diarahkan kemana?, dia jelas menyebut 'PRM (Pimpinan Ranting Muhamadiyah) Kwasen, maka jelaslah yang dimaksudnya adalah Masjid At-Taufiq, Swangan, Kwasen, Kesesi, tidak ada masjid Muhammadiyah kecuali hanya satu yaitu masjid At-Taufiq, di Dukuh Swangan, Desa Kwasen, Kec. Kesesi, Kab. Pekalongan.
Masjid At-Taufiq (bukan nama yang tertulis di prasasti peresmiannya) itu dibangun dari salah satu Ustadz Salafi yang dibawa dari timur tengah di Kabupaten Pekalongan, dan sebagai pengawas proyek adalah Bapak Eko (Purn) juga salafi.
Beberapa masjid yang dibangun Ustadz Salafi tersebut.
1. Masjid Baiturrahim, Tanjungsari, Kajen, Pekalongan
2. Masjid Al-Mubarok, Linggoyono Podosari, Kesesi
3. Masjid At-Taufiq, Swangan, Kwasen, Kesesi
4. Masjid SMK Muhammadiyah Kesesi
5. Dan masih ada beberapa lagi di tempat yang lain.
Kenapa Kasmudi ini tidak tahu sejarah pendirian masjid At-Taufiq?.
Karena dia aslinya berasal Desa Tambakroto, Kajen, dia membeli tanah yang strategis di belakang masjid Darrusallam, Legundi, Kwasen. Lalu dia mendirikan rumah dan usaha tanah tersebut dengan membuka usaha depot kayu dan sekarang ke matrial pembangunan. Karena dia dari awal orang MD (sebutan dari kalangan mereka sendiri), maka otomatis dimasukan sebagai pengurus masjid At-Taufiq.
Warga Muhammadiyah di desa Kwasen itu masih minoritas, apalagi kalau menjadi mayoritas.
Sejarah Ustadz Ibnu Tasuri (atau Ust Wandi jika tertulis di SS inbox tabayyun Fb salah salah satu ikhwan) mengisi kajian di masjid At-Taufiq itu permintaan ketua takmir (DKM) masjid At-Taufiq, dengan muqodimmah bahwa Ir. Dzul Syukur (ketua DKM) itu teman ayahnya Ibnu Tasuri yaitu bapak Tasuri, lalu bercerita bahwa sakit dipunggungnya sering kumat khawatir tidak ada umur masjid tidak ada yang meneruskan, karena bawa-bawa rumah Allah dan kematian, tentu Ustadz Ibnu Tasuri empati untuk ikut memakmurkan, mau sedang tugas dimana berusaha untuk peduli kepada masjid At-Taufiq.
Ir. Dzul Syukur mengajak membuat pesantren, kegiatan bahkan terakhir mengajaknya mendirikan STAI (Kampus Islam), dan sebelum masuk Ramadhan beliau ini juga ikut belajar bahasa arab dan sebelum-sebelumnya memang sudah lama ingin adanya program bahasa arab, beliau mempersilahkan silahkan kelasnya dipakai, dan juga dahulu sering menawarkan ruangan (kamar) samping imam silahkan jika mau dipakai untuk istirahat atau kegiatan apa (alhamdulillah belum pernah diiyakan).
Harusnya PRM Kwasen terima kasih kepada ustadz salafi yang membantu membangunkan masjid At-Taufiq dan terima kasih kepada Ustadz Ibnu Tasuri (ustadz salafi yang lain) yang berusaha memakmurkan masjid, bukan malah menyebarkan fitnah bahwa 'salafi' kudeta masjid milik Muhammadiyah, sebagaimana yang dituduhkan oleh Kasmudi.
Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لا يَشْكُرُ النَّاسَ
"Tidaklah seorang itu disebut bersyukur kepada Allah sampai ia terima kasih kepada orang telah berjasa kepadanya." (HR. Tirmidzi)
Mana rasa terima masih kalian kepada orang salafi yang menjadi jembatan pembangunan masjid At-Taufiq, jika da'i salafi malah kalian tuduh dan fitnah?.
Apakah rasa terima kasih kalian itu dengan jalan menuduh dan memfitnah da'i salafi dan dilakukan di bulan Ramadhan?.
Belalah agamamu, jangan kalian sibuk berloyatitas dengan selainnya!.
Ustadz Ibnu Tasuri itu hubungannya baik dengan tokoh nasional Muhammadiyah atau tokoh Muhammadiyah Kabupaten Pekalongan dan tidak pernah punya masalah dengan Muhammadiyah baik secara organisasinya atau para individunya. Sebagai bukti ustadz ibnu tasuri tidak pernah ada masalah yaitu pernah belajar ilmu management keorganisasian umat kepada tokoh nasional Muhammadiyah Prof. Dr. Yunahar Ilyas rahimahullah, pernah membantu Drs. Sutono rahimahullah dalam membina anak-anak IPM PCM Kajen dengan mengajarkan bahasa arab dan ilmu agama yang bertempat masjid Raya Al-Huzaimah Kajen, dan tentunya masih banyak contoh yang lain jika mau dituliskan.
Marilah sama-sama menjadi mukmin yang sebenarnya yang hanya takutnya kepada Allah saja. Jika bertemu nampak ramah dan tersenyum, maka ketika belakangnya juga tersenyum, jangan sampai terjadi kebalikannya yaitu nampak senyum ramah di depan namun memfitnah dan menusuk dari belakang, karena itu bukan sifat para pengikut Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, namun yang demikian itu adalah sifat dan perilaku orang munafiq.
Semua kita pasti akan mati dan akan dimintai pertanggungjawabannya di alam kubur dan di akhirat kelak, jangan bawa-bawa kematian, namun perilakunya tidak takut akan balasan setelah kematian seperti yang dilakukan oleh Ir. Dzul Syukur, urusan kematian hanya dijadikan pemanis saja, bukan untuk menjadi penyemangat guna menyambut datangnya sebuah yang kepastian yang akan terjadi, yaitu kematian.
Dan lebih ngawur dan gila lagi, di masjid At-Taufiq ini ada orang bernama Bapak Untung yang tidak bisa membaca Al-Qur'an, namun dijadwal menjadi salah satu pemateri kultum sholat tarawih.
إنا لله و إنا إليه راجعون
Bagaimana akan ada perbaikan agama kaum muslimin, jika yang tampil menasihati mereka adalah orang-orang bodoh dalam urusan agama?, maka yang menjadwalkannya dan mengizinkannya tampil itu berdosa besar, apalagi dilakukan di bulan mulia Ramadhan!.
Salah satu perbuatan yang diancam akan disiksa di alam kuburnya itu adalah penyebar fitnah dan pencemaran nama baik, apalagi kepada seorang da'i dan dilakukan di bulan Ramadhan, jika dilakukan kepada muslim biasa saja dosa besar dan berbahaya akan azab Allah, tentu lebih berdosa besar jika diarahkan kepada seorang da'i yang aslinya diajak kerjasama oleh ketua DKM Ir. Dzul Syukur hadahullah wa iyyahu yang ucapan dan sikapnya mencla-mencle yang tidak bisa dipegang.
Seharusnya kita semua bahagia dan gembira ada putra asli daerah mau peduli membimbing umat ke jalan Allah, bukan malah memfitnah di belakang dengan sebutan 'kudeta' masjid milik Muhammadiyah.
Apakah ada keramik, genteng, sapu, karpet, bata atau apapun yang pernah di ambil oleh Ustadz Ibnu Tasuri, wahai engkau yang menuduh?!.
Mau yang katanya disebut salafi, Muhammadiyah atau yang lain pasti akan merasakan sakitnya sakaratul maut, dan lebih mengerikan dan sakit lagi adalah ketika tidak bisa menjawab tiga pertanyaan dua malaikat di alam kuburnya, akan selamat atau tidak?.
Bekal apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadap Allah (kematian)?.
Tuduhan dan fitnah Kasmudi ini dilakukan di bulan Ramadhan 1445 H.
Jika di bulan Ramadhan saja dia berani berbuat dosa besar, yaitu menuduh dan memfitnah tanpa bukti, apalagi di luar bulan ramadhan?!, wallahul musta'an.
Pahala dari semua amal kebaikan di bulan ramadhan itu dilipatgandakan, maka bergembiralah dan bersemangatlah melakukan berbagai kebaikan di bulan penuh keberkahan!.
Dan dosa dari semua amal kejelekan di bulan ramadhan itu dilipatgandakan, maka hati-hatilah, jangan menjadi muslim yang bangkrut di bulan penuh kebaikan!.
Tulisan ini adalah hak jawab, meluruskan fitnah yang tersebar dan mengembalikan nama baik seorang da'i ahlu sunnah waljama'ah, sehingga terulang lagi di tempat lain.
Semoga Muhammadiyah menjadi ormas yang terus bermanfaat untuk Islam dan bangsa Indonesia, dan terjauhkan dari oknum-oknum yang merusak citra Muhammadiyah semisal 'oknum' Kasmudi ini yang tak tahu sejarah dan merasa banyak membantu masjid At-Taufiq Kwasen, Kesesi, Pekalongan 51162.
Catatan:
1. Bukti SS dan chat pribadi didapatkan dari akhi Anjelin hafidzahullah yang sama-sama asli dari Desa Tambakroto, Kecamatan Kajen, Pekalongan 51161.
2. Surat pernyataan Kasmudi
نسأل الله ثباتا على العلم الحق حتى الموت
•┈┈➖•◈◉✹❒📖❒✹◉◈•➖┈┈•
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين





Posting Komentar