Bahayanya Ruwaibidhah
Mulai merebak fenomena yang tidak baik di kalangan orang-orang yang sudah ngaji yaitu menyebut orang yang lebih tua atau yang berilmu dengan sebutan seperti teman duduknya, diantaranya:
1. Misal tanya ke tetangga atau kerabatnya tentang keberadaan ustadz yang sekaligus sebagai teman, dengan sebutan langsung : "Abu fulan...ada di rumah tidak?, tanpa ada sebutan ustadz abu fulan.
2. Memanggil, menyebut atau memperkenalkan (secara offline/online) seorang ustadz walau ia memang sebagai temannya dengan ungkapan: "Akhi lagi dimana?, akhi, ana ada pertanyaan, akh nanti ketemu janjian di tempat ini dan ungkapan semisalnya dengan sebutan "akhi, akh atau khi."
3. Memanggil ustadz yang jelas-jelas ustadz dengan memanggil atau menyebut (offline/online) "Pak atau Bapak saja," tanpa ada lanjutan pak ustadz atau bapak ustadz.
Apakah tiga contoh di atas sebuah kebaikan dan ada contohnya para Salaf?.
Sementara Nabi shallallahu 'alaihi wa salam bersabda dengan bentuk fi'il amr (kata kerja perintah):
أنزلوا الناس منازلهم
"Bersikap sopanlah kalian terhadap sesama manusia sesuai kedudukan mereka." (HR. Abu Dawud, no. 4842)
Dan dalil dari Al-Qur'an dan hadits yang dengan bentuk fi'il amr (kata kerja perintah) menunjukan wajib, dan memanggil atau menyebut ustadz sesuai kedudukan baik orangnya ada atau lagi tidak hadir adalah perintah agama, siapasaja yang menyelisihinya maka telah menyelisihi perintah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan lebih aneh dan heran lagi memanggil orang yang jelas bukan "Ustadz" dipanggil dan disebut Ustadz karena sebelumnya kerja di pesantren Mu'adz bin Jabal Pekalongan, padahal Asep Fuad ini sangat belum pantas disebut dan dipanggil dengan panggilan "Ustadz" karena belajar saja tidak lulus, dan jika dia setelah nikah melanjutkan belajar saja masih lama lulusnya, apalagi yang keluar tidak lanjut belajar lagi, ini bencana besar di tubuh dakwah yang mengaku salafi, karena orang seperti ini bisa muncul dan di-ustadz-kan oleh orang-orang yang aslinya yang ingin menuntut ilmu namun mereka kasihan tidak tepat ketemu guru, aslinya mereka haus ilmu namun ketemu orang yang salah, dan yang pernah mengambil ilmu dengan dia (bukan ustadz sebenarnya) ada saja yang masih mengeyel bahwa lagi inilah.. itulah...dia itu diustadzkan wali murid jamaah mereka tahunya lulusan ma'had Al-Ukhuwah Sukoharjo, bukan yang lagi dijalani ini itu yang sekarang untuk mencari pembenaran dan khawatir terbongkar kapasitas ilmunya, misal tidak ada yang menjelaskan status ke-ustadz-an nya (asli atau tidak) fulan ini pasti Allah akan tetap membongkarnya, karena Allah tak mungkin Ridho ada kepalsuan terlebih kaitan dakwah, apalagi membawa dakwah yang mulia yaitu dakwah manhaj salaf. Semoga Allah memberikan hidayah kepadanya dan kepada yang sudah terlanjur kesemsem dengan retorika bicaranya lalu dianggap sebagai Ustadz.
Inilah pentingnya kajian kitab secara runut, karena ustadz palsu tak akan berani membuka kajian kitab berbahasa arab gundul dengan urut pembahasannya, yang palsu akan membawa tematik...tematik dan terus tematik, untuk menutupi status keilmuannya (yang belum layak dipanggil ustadz apalagi tampil berdakwah) padahal bisa jadi kapasitas ilmunya tidak jauh beda dengan para jamaah kajian yang ada.
Hadir kajian tematik tidak dilarang asalkan jangan jadikan sebagai nutrisi utama, silahkan hadiri kajian tematik tabligh akbar sebulan sekali yang ustadznya jelas bisa membaca kitab arab gundul.
Dahulu para sahabat belajar tauhid tiap hari bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka semakin bertambah baik pula akhlak dan adab mereka juga, seharusnya juga demikian keadaan antum/antunna dimanapun berada, karena menisbatkan di atas jalannya para sahabat.
Sempat berfikir bahwa Asep Fuad ini akan lama dan betah di lembaga yang kerja disitu dan diustadzkan juga selama 10 tahun lebih, nikmat dong dengan kepalsuan dan membodohi orang-orang yang sibuk ngaji, sampai disebut sebagai 'Al-Ustadz,' eh tidak tahunya dia juga dipecat setelah temannya Ustadz Muhammad Nashrullah dikeluarkan terlebih dahulu yang sama-sama dari Cirebon.
Temannya yang ustadz asli (Muhammad Nashrullah) saja yang bareng bersamanya tak berani meluruskan panggilan dia sebagai ustadz, lalu buat apa ia belajar ilmu, iman, amar ma'ruf wa nahi mungkar di kitab-kitab para ulama, jika tidak diamalkan, hanya diam seribu bahasa, bahkan nampak seakan mendukung panggilan Asep ini sebagai 'ustadz' dan membiarkan sampai dia mengisi kajian di tempat ia rutin ngisi kajian di Masjid Kaliwadas, Bodeh, Pemalang, wallahul musta'an.
Yang nampak asli saja diam, apalagi yang memang hanya sekedar jamaah kajian, maka mereka menjadi korban kegiatan ustadz palsu.
Alhamdulillah infonya Asep Fuad ini tidak ada di Pekalongan, namun penggemar dan syubhatnya masih banyak, maka penting nasihat ini diulangi lagi, jangan sampai kaum muslimin di Pekalongan dan dari luar pekalongan terhipnotis dengan orang semisal Asep Fuad ini.
Dan lebih penting lagi bagi calon wali murid, pikir ulang jika anda ingin menyekolahkan anak-anak anda semisal tempat kerja Asep Fuad ini yaitu Islamic Center Mu'adz bin Jabal Pekalongan yang lokasinya tidak jauh dari kantor SAMSAT Kajen, karena pengorbit 'ustadz/ustadzah palsu' yaitu pimpinan pesantrennya Abu Hudzaifah Tasiwan, M.Pd itu da'i ahlul fitan (tukang fitnah) dan menipu umat dengan memanggil semua pengajar agama atau pengajar umum dengan panggilan yang sama yang yaitu 'ustadz/ustadzah', jelas ini menyelisihi perintah Allah:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
"Katakanlah, apakah sama antara orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang bodoh?!, sesungguhnya hanya orang-orang yang memiliki akal sehat sajalah yang dapat menerima nasihat (kebenaran)". (QS. Az-Zumar: 9)
Dan pimpinan lembaganya itu ahlul fitan (tukang fitnah), ungkapan ini ia ceritakan sendiri ketika ia datang ke kontrakan dahulu, sambil dengan nada kesal lalu cerita kepada penulis: "masa guru antum (semoga Allah menjaganya) menyebut ana sebagai da'i ahlul fitan," dan tahunya juga istrinya juga cerita hal yang sama kepada istri saya. Dan dulu sampai sekarang tentu saya di pihak orang yang mendidik saya (ustadz saya), setelah berlalu sekitar setahun sebutan 'ahlul fitan' itu memang terbukti dan korbannya banyak, bahkan mantan timnya sendiri saja yang keluar difitnah habis-habisan.
Apakah anda wahai para calon wali murid masih mau menyekolahkan ke lembaga yang dipimpin oleh ahlul fitan Abu Hudzaifah Tasiwan, M.Pd?.
Semoga Allah memperbaiki dan menjaga akhlak dan adab kita semua sesuai tuntunan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diatas pemahaman sahabat yang sebenarnya dan terjauhkan dari merasa mampu memahami dalil sendiri.
Dan bersyukurlah bagi siapasaja ikhwan/akhowat yang baru dapat ilmu dan penjelasan ini dengan membaca tulisan ini dengan ucapan alhamdulillah dapat ilmu lagi, semoga Allah mengampuni kita semua dan meminta kepada-Nya agar tidak terjatuh pada lubang yang sama. Âmîn
***
Disusun di bumi Allah Kajen, Sabtu 8 Syawal 1442
•┈┈➖•◈◉✹❒📖❒✹◉◈•➖┈┈•
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين





Posting Komentar