Salafi Tukang Merebut Masjid Muhammadiyah?
Apakah benar orang-orang yang bermanhaj salaf itu tukang kudeta atau merebut masjid Muhammadiyah?.
Mari kita belajar sejarah Islam dan merenung dengan hati dan pikiran yang jernih.
Apakah para sahabat tukang khianat atau korban dikhianati?.
Apakah para sahabat itu tukang kudeta atau dikudeta?.
Apakah para sahabat itu tukang merampok atau korban dirampok?.
Allah merekomendasi bahwa para sahabat adalah generasi terbaik, dan begitu pula Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mendidik para sahabat menjadi orang-orang yang jujur dan siap mempertaruhkan nyawa demi membela agama Allah.
Orang yang bermanhaj salaf (salafi) itu mengikuti jalannya para sahabat dalam menjalankan agamanya, sehingga tidak mungkin akan menjadi pengkhianat apalagi kudeta rumah Allah, jelas tidak mungkin, jika ada 'oknum' mengaku salafi lalu dia pelaku kudeta masjid atau aset ormas lain, maka dipastikan dia bukan salafi atau salafi gadungan.
Manhaj salaf itu mengajarkan aqidah dan tauhid yang benar, amanah, menepati janji, tidak bermuka, tidak menjadi penjilat, tidak menumbalkan saudara muslimnya, menjaga darah (nyawa), harta dan kehormatan muslim, berani diatas kebenaran, dan kebaikan yang lainnya.
Yang banyak terjadi di berbagai tempat orang jujur itu menganggap orang lain sama seperti dirinya, makanya ia berbaik sangka kepada siapapun, hal demikian juga pernah dirasakan oleh Nabi kita, ketika Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dikhianati orang-orang Urainah yang dirangkulnya.
Orang-orang Urainah menjadi mualaf, tetapi kemudian mengkhianati Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam gembira bukan kepalang ketika datang sekelompok orang yang mengaku dari sebuah tempat bernama Urainah. Kepada Rasulullah, para musafir yang baru saja hilir mudik mengunjungi sudut-sudut dunia itu mengaku ingin masuk Islam. Mereka ingin mengucapkan di hadapan sang pembawa risalah dan agama baru.
“Masuk Islam di depan Nabi lebih utama dan bagus, bukan?" demikian salah seorang berbisik kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Tanpa perlu waktu lama, prosesi pembacaan syahadat sebagai pintu gerbang masuk Islam pun dilakukan. Lalu, orang-orang dari Urainah tersebut berbaur dengan penduduk Madinah. Sebagai mualaf, mereka dibimbing oleh para sahabat untuk melakukan ini-itu ritual ibadah, termasuk cara bersuci dan melakukan salat fardu. Mereka diajari pelajaran yang dasar-dasar sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lebih mendalam soal Islam.
Hari berganti, lalu muncullah drama. Pagi belum begitu sempurna ketika salah seorang anggota kelompok dari Urainah ini menghadap kepada Nabi shallallahu 'alaihi. Ia menceritakan kondisi beberapa saudara di kelompoknya yang kesulitan beradaptasi dengan cuaca Madinah. Rasulullah menyimak dengan serius.
“Bintik-bintik di tubuh saudara kami semakin hari semakin banyak, ya Rasulullah. Nampaknya mereka terkena penyakit cacar. Tapi saya pastikan mereka tidak terkena gudik," demikian jubir kelompok Urainah itu berkisah kepada Rasulullah.
Didasari sikap lemah lembut dan kasih sayang yang demikian luas kepada umatnya, Rasulullah memerintahkan salah seorang tukang gembala dari kalangan sahabat untuk segera membawa anggota kelompok Urainah yang sakit cacar itu ke luar kota Madinah. Mereka sementara diungsikan dulu agar kondisinya membaik.
Hari itu juga, unta-unta pilihan disiapkan. Keesokan harinya, mereka berangkat ke daerah yang cuacanya mirip dengan kondisi di Urainah. “Saya tahu tempatnya. Tidak begitu jauh," demikian salah seorang anggota perjalanan meyakinkan.
Perjalanan ‘ekspedisi cacar’ dimulai. Unta-unta bergerak menggendong orang-orang yang sakit cacar. Senyum kebahagiaan mengembang. “Beginilah seharusnya. Sesama muslim, Muhajirin ataupun Ansor harus saling membantu dan tolong menolong," salah seorang dari mereka berseloroh disambut riuh suara tanda setuju seluruh anggota perjalanan.
Perjalanan itu sungguh menjadi jalan keluar. Setelah tiga hari perjalanan, ketika mereka sudah lumayan jauh meninggalkan kota Madinah, penyakit cacar yang mendekap orang-orang Urainah itu berangsur pulih dan hilang.
Perdebatan pun dimulai. Penggembala unta yang diberi tugas menjadi pendamping ekspedisi itu mengajak pulang. Rasulullah beramanat, setelah sembuh rombongan harus segera diajak kembali. Namun, ajakan itu ditolak mentah-mentah oleh seluruh anggota perjalanan. Mereka berdalih khawatir akan terkena cacar lagi jika harus kembali ke kota Madinah.
“Sebaiknya kita tinggal di sini saja. Kita akan terhindar dari penyakit bedebah dan menjijikkan itu," demikian seorang anggota berdalih.
Tak disangka, keesokan harinya salah seorang anggota ekspedisi nekat membunuh penggembala unta tersebut. Mayatnya dibuang dan unta-unta itu dibawa kabur oleh mereka.
Kabar pembunuhan dan pencurian unta akhirnya sampai ke telinga Rasulullah. Kecewa dan marah (menunjukan beliau bersikap keras, karena mereka harus dikerasi) dari perilaku kelompok mualaf dari Urainah itu, Rasulullah memerintahkan beberapa sahabat untuk mengejar dan menangkapnya. Rasulullah dikhianati.
Kelakuan orang Urainah memang nekat betul: pura-pura masuk Islam demi onta-onta pilihan. Kisah ini termaktub di banyak kitab. Salah satunya ditulis oleh Ibnu Hajar Al-Asqalany dalam Fathul Bâri syarhi Shahih Bukhari (Fathul Baāry, 1998: 253-254, Vol. 7)
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat dikhianati, dan mereka bukan pelaku pengkhiatan apalagi kudeta aset orang lain.
Tambahan nasihat, orang yang tak memiliki iman yang benar dan tak memiliki kemampuan untuk merintis dakwah dan dalam mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam atau program kebaikan, namun dirinya ingin dipandang sebagai orang yang mendirikan dan memiliki andil besar, maka pasti dia akan menempuh jalan licik seperti perilakunya orang munafiq yaitu bermuka dua, menebar fitnah, adu domba, pengecut, penjilat, menghasud dan menusuk dari belakang.
Orang yang bermanhaj sahabat yang asli (salafi) tak akan menjadi pengkhianat seperti Yahudi dan tidak bersikap seperti orang-orang munafiq.
Dari kisah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diatas bisa dipetik ibroh:
1. Pengkhianatan dalam bentuk apapun itu bukan dari ajaran Islam
2. Yang mengikuti dan mencontoh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan sebenarnya akan merasakan sesuatu yang pernah dirasakan oleh beliau shallallahu 'alaihi wa sallam
3. Pelaku pengkhianatan itu adalah orang-orang pengecut, bermuka dua, bermental penjilat, namun ingin dianggap sebagai orang baik
4. Pengkhianatan merupakan dosa besar dan pelakunya akan menanggung perbuatannya ketika menjelang kematiannya dan tentunya lebih mengerikan siksaan di Neraka karena perbuatan pengkhianatannya.
Ustadz kok bisa ditipu, padahal kan punya ilmu, gimana sih?!.
Tanda orang yang memiliki kejujuran pasti akan merasakan apa yang Nabi shallallahu 'alaihi rasakan, apalagi hanya sekedar ustadz atau da'i.
Sesama ustadz yang baik ilmunya akan sama-sama paham tentang hal ini, adapun yang banyak menilai "kok ustadz bisa dibohongi, dikibulin, ditipu atau dikhianti ya, kan padahal orang berilmu?, atau ungkapan semisal dengan itu," datangnya dari orang-orang yang tak paham siroh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan orang-orang yang ngaji tanpa arah.
•┈┈➖•◈◉✹❒📖❒✹◉◈•➖┈┈•
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين




Posting Komentar