Ustadz Palsu Itu Tanda Hari Kiamat
Pada zaman kita sekarang ini banyak yang bermunculan orang-orang yang berani berbicara tentang agama dan berfatwa tanpa rasa takut, sementara dirinya bukan orang yang ‘Âlim.
Kebanyakan kaum muslimin ketika diajak belajar bahasa Al-Qur’an atau bahasa arab menjawab : “Duh bahasa arab susah…dst…”, namun ia berani untuk tampil memberikan kultum, khotib Jum’at, kuliah Subuh bahkan ada yang super nekat dengan mengisi kajian Islam atau mininal sekedar ridho dan senang dipanggil ustadz di masyarakat atau lebih miris lagi adalah di sebuah lembaga pendidikan Islam, sementara dirinya bukan seorang ustadz yang sebenarnya. Ini keanehan luar biasa yang terjadi di waktu kita ini, seharusnya seorang yang mengatakan bahwa belajar bahasa arab itu susah, maka ia tidak berani tampil maju di depan sebagai pemateri, tentunya jika beriman persidangan di akhirat tidak suka dan tidak ridho dipanggil sebagai ustadz/ustadzah karena belum terpenuhi syarat-syaratnya, namun pada nekat maju dan tampil ke depan walau tak bisa bahasa arab, luar biasa nekatnya.
Padahal banyak yang takut mencopot lampu sen mobil atau motornya karena alasan takut rusak, yang mana jika melakukannya tidak berdosa asalkan kendaraan tersebut miliknya. Namun urusan agama yang bukan bidangnya, banyak orang berani nekat berbicara agama dan menjadi pemateri ilmu padahal ia tak mampu membaca kitab berbahasa arab, padahal siapasaja yang berbicara tentang agama tanpa ada riwayat belajar dan sanad guru agamanya tentu merusak agama dan siapa yang merusak agama ia berdosa, Allah menyiapkan tempat duduknya di Neraka karena berani berbicara tentang agamanya tanpa ilmu dan cara yang benar.
Banyak orang berani tampil dengan dalil hadits dari Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”. (HR. Bukhari)
Yang perlu dipahami baik-baik dari hadits di atas untuk kita semua sebagai muslim adalah:
1. Hadits itu berbahasa arab tidak dipahami dengan bahasa Indonesia atau bahasa yang lain, adapun arti terkadang tidak mewakili makna yang diinginkan oleh sebuah hadits yang kita dengar. Maka salah satu syarat seorang berdakwah di atas mimbar adalah mampu berbahasa arab (membaca kitab gundul).
2. Tidak setiap orang boleh berdakwah dan tampil di mimbar-mimbar dengan alasan mengamalkan hadits di atas, boleh diamalkan hadist ini untuk berdakwah yaitu dengan jalan:
a. Mengajarkan ilmu ke keluarga masing-masing, hal ini selaras dengan firman Allah Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim: 6)
b. Dibolehkan mengamalkan hadits di atas untuk memberikan nasihat kepada pribadi dengan kata lain berdakwah perseorangan, bukan membuka majelis atau di mimbar-mimbar jum’at dan majelis yang lainnya, karena dakwah diatas mimbar itu syaratnya sangat banyak dan ketat tidak asal bisa berbicara di depan umum lalu boleh berdakwah.
Membuka majelis ilmu atau tampil di mimbar-mimbar dan kultum harus menguasai banyak ilmu yang mumpuni, jelas sanad guru-gurunya, lama belajar ilmunya dan sudah mendapatkan rekomendasi dari gurunya untuk mengajar atau berdakwah (gurunya juga seorang yang ahli ilmu dan tentu mampu membaca kitab gundul berbahasa arab), ilmu-ilmu yang harus dimiliki:
• Bahasa arab
• Al-Qur’an
• Ushul Tafsir
• Tafsir
• Balaghoh
• Hadits
• Mushtholah Hadist
• Ushul Fiqh
• Fiqh
• Qowa’idul Fiqhi
• Siroh
• Aqidah
• Akhlaq
• Fara’id
• Balaghoh Al-Qur’an
• Dan masih banyak ilmu yang lain yang harus dikuasai.
Penting : Semua ilmu yang disebutkan di atas tidaklah didapatkan dengan instant, namun waktunya lama dan harus banyak pengorbanan. Sehingga tidak sembarangan orang boleh tampil di mimbar-mimbar, kultum dan mengajar di majelis ilmu ataupun sekedar ridho dan senang dipanggil sebagai ustadz/ustadzah di masyarat terlebih lagi di sebuah lembaga pendidikan padahal tidak terpenuhi syarat-syaratnya, maka panggilan ini harus dihindari, dan tidak boleh seorang memanggil seorang dengan panggilan ustadz/ustadzah sementara ia bukan yang sebenarnya, karena termasuk mempermainkan kemuliaan agama dan yang mendakwahkannya.
3. Setiap yang diajarkan atau didakwahkan ke kaum muslimin wajib sudah diamalkan, jika belum diamalkan maka ancaman Allah Ta’ala amat besar bagi yang melanggarnya:
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Mengapa kalian memerintahkan orang lain (untuk mengerjakan) kebaikan, sedang kalian melupakan diri (kewajiban) kalian sendiri, padahal kalian membaca Al Kitab, maka tidaklah kalian memiliki akal sehat?”. (QS. Al-Baqarah: 44)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan?.” (QS. As-Saff: 2)
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”. (QS. As-Saff : 3)
Al-Imam Bukhari rahimahullah adalah salah satu Ulama yang dicintai oleh seluruh kaum muslimin di dunia, beliau menasihatkan untuk kita semua:
العلم قبل القول و العمل
“Ilmu (berilmu dahulu) itu sebelum berkata dan beramal”. (Shahih Bukhari)
Jangan sampai diri kita berkata dan berbuat baru setelahnya nyari ilmu karena ditanya mana dalilnya, namun siapkan dahulu dalilnya kemudian berkatalah dan beramalah!.
Saudaraku, kaum muslimin dimana pun anda berada, tulisan ini adalah bentuk cinta saya sebagai seorang muslim kepada saudaranya bukan dalam rangka yang lain.
Tolong jangan percepat tanda hari kiamat dengan engkau nekat tampil di mimbar-mimbar dan menasihati kaum muslimin di khalayak umum, sementara ilmu baca kitab arab gundul saja tidak bisa, atau sangat minim dan jauh dari kata disebut sebagai yang mumpuni ilmu agamanya.
Jika dokter saja ada spesialisasi maka dalam agama lebih-lebih dari dunia kesehatan.
Jika perusahaan saja akan menerima karyawannya dengan catatan ahli di bidangnya dan profesional dalam bekerja.
Lalu kenapa Anda (siapapun engkau) yang bukan ahlinya di bidang agama berbicara agama di depan umum atau di mimbar atau pun hanya sekedar ridho dipanggil atau memanggil ustadz/ustadzah padahal bukan pada orang yang tepat, dalam rangka apa Anda, pencitraan atau biar duniamu aman?!.
Tahukah Anda, salah satu tanda besar hari kiamat adalah munculnya para penceramah atau khotib yang bukan ahlinya dan sedikitnya Ulama (tidak adanya waktu dan tempat karena bidangnya diambil oleh orang yang bukan ahlinya) dan panggilan ustadz/ustadzah menjadi sangat murah tidak sakral lagi, disebabkan orang-orang tersebut di lembaga pendidikan Islam disebut bukan sesuai kedudukan mereka, padahal mereka bukan ustadz/ustadzah yang asli dan tidak terpenuhi syarat diperbolehkan untuk dipanggil ustadz/ustadzah, karena nantinya akan mendatangkan bahaya yaitu merasa selevel dengan ustadz/ustadzah yang asli dan keras kepalanya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَسَيَأتِي [مِنْ بَعْدِكُمْ] زَمَانٌ قَلِيلٌ فُقَهَاؤُهُ، كَثِيرٌ خُطَبَاؤُهُ , كَثِيرٌ سُؤَّالُهُ، قَلِيلٌ مُعْطُوهُ
“Akan datang zaman (setelah generasi Sahabat) sedikitnya orang Alim, banyak penceramahnya (hanya tukang ngomong agama, namun bukan ahlinya), orang yang memberi sedikit, sedangkan yang meminta-minta banyak”. (HR. Ath-Thabarani dalam Mu’jam Al-Kabir, no. 3111)
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّـى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin (tokoh agama), lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain”. (Mutaffaqun 'Alaihi)
Ilmu agama senantiasa terus berkurang dengan wafatnya para Ulama, sementara kebodohan semakin banyak, sehingga banyak orang yang tidak mengenal kewajiban-kewajiban dalam Islam.
Imam adz-Dzahabi Rahimahullah ulama besar ahli tarikh (sejarah) Islam berkata setelah memaparkan sebagian pendapat ulama, “Dan mereka tidak diberikan ilmu kecuali hanya sedikit saja. Adapun sekarang, maka tidak tersisa dari ilmu yang sedikit itu kecuali sedikit saja pada sedikit manusia, sungguh sedikit dari mereka yang mengamalkan ilmu yang sedikit tersebut, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita”. (Tadzkiratul Huffaazh (III/1031)
Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu 'anhu berkata:
لَيُنْزَعَنَّ الْقُرْآنُ مِنْ بَيْنِ أَظْهُرِكُمْ، يُسْرَى عَلَيْهِ لَيْلاً، فَيَذْهَبُ مِنْ أَجْوَافِ الرِّجَالِ، فَلاَ يَبْقَى مِنْهُ شَيْءٌ
“Sungguh Al-Qur’an akan dicabut dari pundak-pundak kalian, dia akan diangkat pada malam hari, sehingga ia pergi dari kerongkongan orang-orang. Maka tidak ada yang tersisa darinya di bumi sedikit pun”. (HR. Ath-Thabrani)
Syaikhul Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Di akhir zaman (Al-Qur’an) dihilangkan dari mushhaf dan dada-dada (ingatan manusia), maka tidak ada yang tersisa satu kata pun di dada-dada manusia, demikian pula tidak ada yang tersisa satu huruf pun dalam mushhaf”. (Majmuu’ al-Fataawaa III : 198-199).
Saudaraku di manapun Anda berada, Allah memberikan diri kita:
1. Dua telinga.
2. Dan satu mulut.
Apakah tidak ada faidahnya Allah Ta’ala memberikan dua telinga dan satu mulut?, tentu ada:
1. Diri kita diperintahkan lebih banyak mendengar daripada berbicara, yaitu lebih banyak duduk di majelis ilmu untuk mendengarkan ilmu dan menjadi jama’ah shalat jum’at untuk mendengarkan khotib jum’at yang mumpuni ilmunya berkhutbah memberikan nasihat kepada diri kita semua.
2. Tidak boleh berbicara kecuali hal-hal yang baik dan bermanfaat untuk bekal akhirat kelak, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang mengaku beriman kepada Allah dan tegaknya hari kiamat, maka pastilah akan berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari : 5673)
Akhir kata marilah kita sibukkan duduk di majelis ilmu dan belajar agama dari yang paling dasar, bertahap sehingga menjadi orang yang berilmu.
Semoga nasihat ini bermanfaat bagi saya pribadi, keluarga dan seluruh kaum muslimin di manapun Anda berada. Âmîn
______
Disusun di bumi Allah – Kota Kajen, Selasa 23 Rabiul Akhir 1442, Pukul 22.29 Wib
•┈┈➖•◈◉✹❒📖❒✹◉◈•➖┈┈•
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين




Posting Komentar