Terima Kasih Tidak Seperti Penjajah

Table of Contents


Seorang mukmin sejati yang beriman kepada Allah dan akan tegaknya hari kiamat itu pasti akan menjauhi sifat-sifat yang menunjukkan kelemahan pada dirinya. Karena sifat menjatuhkan lawan tanpa mau bersaing yang sehat dengan jalan fitnah, adu domba, menghasud, pencitraan itu bukan milik seorang mukmin, namun milik penjajah, karena seorang mukmin yang dirinya teguh dengan tali agama Allah, maka ia pasti akan membenci dan membuang jauh-jauh sifat yang tak selayaknya ia miliki, diantaranya:

1. Enggan bersaing sehat dalam hal kebaikan, lalu menempuh menghasud, adu domba bahkan berani memfitnah.

2. Menempuh jalan yang nampaknya di khalayak ramai baik, namun ada maksud terselubung dari apa yang ia katakan atau lakukan.

3. Adu domba antar sesama mukmin bahkan diantara para da’i yang lain, agar dirinya semakin disanjung, ditokohkan, dan mendapatkan bagian dunia yang menjadi target sebenarnya.

4. Mencari aman nyaman dunianya, namun berantakan dalam perbaikan iman.

5. Menghindar untuk adu program, terobosan, dan gebrakan dalam mengurusi sebuah program pendidikan atau pun dakwah.

6. Menyingkirkan siapasaja yang menjadi penghalang hawa nafsunya dan dinampakkan hal itu adalah sebuah kebaikan, agar tak terbongkar apa yang menjadi tujuan aslinya.

Sementara Allah memerintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan melarang untuk saling membantu dalam kejelekkan.

Allah Ta'ala berfirman:

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِييرٌ

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 148)

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-maidah: 2)

Karakter ataupun sifat seorang mukmin bukanlah seperti penjajah yang mana dirinya menghalalkan segala cara agar sampai ketujuan hawa nafsunya yaitu menyebarkan fitnah dan adu domba, serta tidak memperdulikan bahwa perkataan atau perilakunya itu telah melanggar apa yang sudah ia pelajari. Yang lebih miris lagi hal ini terjadi bukan dalam urusan bisnis ataupun keduniaan saja, namun terjadi juga dalam urusan dakwah dan yang berkaitan dengannya, baik lembaga pendidikan atau program dakwah yang lain.

Marilah, teladani para sahabat yang sebenarnya dalam beragama dan muamalah mereka, dan jangan sampai hanya sekedar pengakuan di lisan saja dan dinampakkan dengan pakaian yang nampaknya kebaikan, namun di balik itu semua hanyalah kepalsuan pengakuan.

Marilah bersikap seperti ‘Umar bin Khattab dan Hamzah bin Abdul Muthalib yang mana mereka benar-benar jantan dalam hal kebaikan, sementara mengasud, menyebarkan fitnah dan adu domba adalah sifat perempuan.

Berapapun jumlah hafalan Al-Qur’an, hadits, dan kitab-kitab yang engkau tamatkan, namun perangaimu nampak seperti penjajah, maka mohon maaf belumlah disebut orang yang berilmu, karena orang yang berilmu adalah orang yang mengamalkan ilmunya, bukan hanya pernah belajar atau menamatkan ilmu ini dan itu atau kitab ini dan itu.

Marilah, cari iman untuk bekal untuk meraih aman di akhirat, bukan hanya sekedar aman di dunia dan diam melihat kemungkaran, karena orang semacam ini akan teriak menyesal di akhirat, karena sudah tidak ada yang mendukung kepalsuannya lagi dan dia akan menanggung beban yang mengerikan di pengadilan yang pasti adil tanpa pemutarbalikan fakta di kenyataan dunia yang sudah dilakukan!.

Marilah, bersaing yang sopan (ilmiah), bukan hanya bermodalkan tenar apalagi pencitraan lalu menjatuhkan pribadi lawan tanpa melawan dengan menawan di atas ilmu dan burhan!.

Marilah, bermental pejuang bukan pecundang dan serampangan!.

Marilah, adu program dan gagasan memajukan Islam dengan dakwah dan amal sesuai contoh para sahabat yang sebenarnya, bukan hanya jargon dan lipstik saja!.

Marilah,berlomba-lomba dalam kebaikan!.

Marilah, sama-sama tunjukkan bahwa kita bukanlah karbitan!.

Marilah, sama-sama hindari dan lawan jebakan setan dan tipu dayanya merusak kaum muslimin!.

Marilah, sama-sama kita lihat mana kawan dan mana lawan!.

Allah Ta'ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا 

“Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak disebut beriman hingga mereka menjadikan engkau (Nabi) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati terhadap keputusan yang engkau berikan dan mereka menerima sepenuhnya.” (QS. An-Nisa: 65)

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu keputusan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang yang beriman bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukumi (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami patuh.’ Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur: 51)

Dan mukmin sejati dan pemberani itu adalah seorang yang mau menerima kebenaran dan tidak meremehkan kebenaran yang datang kepadanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR.Muslim, no. 91, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

•┈┈➖•◈◉✹❒📖❒✹◉◈•➖┈┈•

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Posting Komentar