Sibuk Belajar Tauhid, Namun Masuk Neraka?

Table of Contents


Belajar tauhid itu penting dan utama, namun nampak sibuk belajar aqidah dan tauhid, terlebih yang mengajarnya wajib harus ada buahnya, yaitu harus berdampak dan memunculkan kebaikan yang lain.

Dan ketahuilah wahai saudaraku (yang mengajajarkan ilmu aqidah dan tauhid atau yang mempelajarinya)!, bahwa para salaf itu tidak membedakan antara aqidah dan manhaj (cara beragama), sehingga jika seorang memiliki aqidah yang benar pasti manhajnya juga lurus dan benar sesuai dengan contoh dari para sahabat radhiallahu 'anhum.

Alhamdulillah saat sekarang ini banyak tersebar kajian rutin pembahasan aqidah dan tauhid, namun harus diperhatikan wahai para pengajar tauhid dan yang hadir untuk mempelajarinya!, bahwa mengajar atau belajar aqidah dan tauhid itu harus ada dampak dan hasil kebaikannya. Karena buah dari mengenal Allah dengan baik dan benar melalui belajar aqidah dan tauhid itu adalah akhlaknya juga baik, sebagaimana para sahabat sibuk belajar aqidah dan tauhid, maka akhlak mereka juga bertambah baik setiap harinya, semakin berani di atas kebenaran, siap mati membela agama Allah dengan jihad, bukan nampak sibuk dengan tauhid, namun menjadi pengecut, bermental penjilat, bermuka dua, ingkar janji dan bahkan ada yang kerusakannya lebih parah yaitu sibuk ngaji tauhid, namun takut sama istrinya.

Ada da'i yang nampak sibuk mengajarkan aqidah dan tauhid, baik di kelas maupun di kajian, namun zalim kepada da'i yang lain, lisannya rusak tidak terjaga dengan memfitnah, mengadu domba, hasud sana sini, merusak nama baik dan dakwah da'i yang lain, apa manfaatnya anda mengajarkan aqidah dan tauhid kepada murid dan jamaah anda wahai da'i?.

Dan jika ditemukan da'i model seperti ini, jangan mendekat apalagi sampai mau duduk di majelisnya, dan jangan pula sekolahkan anak-anakmu di lembaga yang dipimpinnya, agar hatimu dan anak-anakmu tidak rusak karena pengajarannya yang merusak. 

Begitu pula ia itu dari dulu ia zalim kepada tim pengajarnya, dengan ucapan jargonnya "ngajar itu harus ikhlas" (siap digaji kecil dan jangan sampai protes), namun jargon tak berlaku untuk keluarganya. Tim pengajarnya tak masalah jika digaji kecil, jika pimpinannya itu juga sama dengan keadaannya, namun kenyataannya itu hanya jargon saja agar perbuatan zalim nampak islami, pimpinannya nampak wah dan sangat tercukupi, namun anak buahnya ala kadarnya.

Bagaimana kaum muslimin akan baik aqidah dan tauhidnya, jika yang mengajar aqidah dan manhaj itu da'i yang seperti ini?!.

Banyak yang sudah sibuk hadir rutin belajar aqidah, tauhid dan manhaj di kajian-kajian dan lagi trend mengikuti program-program online, namun buah dari belajarnya tak nampak dan terasa, misal:

1. Ngaji tauhid rajin, namun kalau mengucapkan "in syaa Allah" hanya sebagai lipstik doang, padahal Al-Imam Ibnu Qoyim rahimahullah berkata: "seorang yang mengucapkan 'in syaa Allah' dan dia tidak menepatinya, maka dia itu munafik."

2. Ngaji tauhid rajin, namun kalau berkata sering dusta.

3. Ngaji tauhid rajin, namun kalau berjanji mengingkarinya.

4. Ngaji tauhid rajin, namun ada tetangganya tidak punya air di musim kemarau, dia pura-pura tidak melihat, pura-pura tidak mendengar dan pura-pura tidak tahu.

5. Ngaji tauhid rajin, namun bermental penjilat, bermuka dua, menumbalkan temannya, menjadi sales fitnah dan sales adu domba, dan kalau ada berita miring tidak melakukan tabayyun.

6. Ngaji tauhid rutin, namun diam saja dari munculnya ustadz/khotib palsu.

Apa fungsinya ngaji aqidah dan tauhid?!.

Fungsinya adalah memperbaiki hati (iman) dan akhlak.

Ingatlah, bahwa ngaji aqidah, tauhid dan manhaj bukan berarti sudah selamat dari jebakan Iblis.

Dan salah satu jebakan Iblis untuk orang-orang yang nampak mengajarkan dan belajar tauhid itu kezaliman, dan dibisikkan: "tenang engkau akan selamat karena sudah rutin mengajar atau belajar tauhid", namun dipalingkan untuk berbuat jahat dan zalim kepada orang lain dan meremehkan kewajiban-kewajiban sesama muslim yang harus ditunaikan.

Asy-Syaikh Al-'Alâmah Al-Munâwî berkata:

أكثر ما يدخل الموحدين النار حقوق العباد

"Kebanyakan yang menjadi sebab memasukkan orang-orang yang nampak bertauhid (yang sudah ngaji tauhid dan nampak sibuk belajar tauhid) ke Neraka itu adalah meremehkan hak-hak sesama hamba Allah (jahat dan zalim kepada muslim yang lain dengan embel-embel tauhid)." (Faidul Qodîr, 3/565)

Sebagai penutup, mengajar atau pun belajar tauhid itu harus ada buahnya, jangan sampai nampak sibuk saja, namun jebakan Iblis masuk kepadanya dia tidak terasa.

نسأل الله السلامة في تعليم التوحيد

•┈┈➖•◈◉✹❒📖❒✹◉◈•➖┈┈•

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين



Posting Komentar