Hukum Mengambil Ilmu Kepada Da'i Yang Dikuasai Istrinya?

Table of Contents


Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam artikel 'hukum suami takut kepada istrinya?', hukumnya haram suami takut kepada istrinya.

Lalu bagaimana hukumnya mengambil ilmu kepada da'i yang dikuasai istrinya?.

Sebelum menjelaskan hukumnya, akan dijelaskan terlebih dahulu sebab seorang suami itu takut kepada istrinya. Secara umum suami yang takut istrinya itu salah mengambil ilmu kepada da'i yang dikuasai istrinya, sehingga jangan kaget dan heran, jika hasil didikan da'i yang dikuasai istrinya, ya tentu hasilnya akan sama dari sang pengajarnya.

Banyak yang beranggapan bahwa Abu Hudzaifah Tasiwan, M.Pd mudir pesantren Mu'adz bin Jabal Pekalongan itu totalitas di lembaga yang ia pimpin, jawabannya tidak. Sang mudir itu PNS/ASN kesibukan senin s/d jumat mengajar di sebuah SMP negeri di wilayah Pekalongan, dan ia itu guru mata pelajaran fisika, dan setelahnya barulah mengurusi pesantren.

Lalu bagaimana cara mengawasi kegiatan di pesantren?.

Nah, ini pertanyaan yang banyak muncul dari orang-orang yang sudah paham kegiatannya sebagai guru di sekolah negeri.

Yang dijadikan monotoring, pengawasan dan berbagai permasalahan itu istrinya, bahkan sebelum para anggota yayasannya pada keluar, dan salah satunya mendirikan SD Islam Satu Teladan di komplek masjid Tanjungsari, Kajen, Pekalongan itu memberikan kabar bahwa yang menjadi bendahara pesantren itu istrinya sendiri, dan diperkuat lagi oleh informasi akhuna Fauzan Langensari, Kesesi bahwa "ya betul bendaharanya istrinya sendiri".

Ya mukmin, yang sedang mulai tambah penasaran membaca tulisan ini, betulkan?!.

Penulis itu adalah korban bertahun-tahun dari jahatnya lisan sang mudir tersebut, disebabkan dirinya itu dikuasai istrinya, bahkan ia pernah menyampaikan: "masa istri saya mau berbohong (tentang kondisi ma'had kesehariannya)", jelas ini menyelisihi apa yang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah lakukan kepada istri-istrinya, yaitu tidak setiap informasi yang disampaikan seorang istri itu ditelan mentah-mentah.

Ingatlah, bahwa wanita itu lemah agama dan akalnya sebagaimana yang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sabdakan dalam haditsnya, sifat wanita itu berbicara dahulu baru setelahnya baru mikir dan menyesal akibatnya.

Allah telah memuliakan seorang laki-laki melebihi dari wanita dengan; kekuatan, akal dan agamanya. Oleh karena laki-laki haruslah bersikap sebagaimana mestinya.

Seorang laki-laki sifat dominannya itu berfikir dulu kemudian berkata maupun bertindak, adapun sifat wanita itu berbicara atau bertindak sesuatu kemudian baru berfikir.

Perjuangan hidup di akhir zaman dalam menegakan syariat Allah dan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sesuatu yang mulia, terlebih untuk laki-laki. Karena jika seorang laki-laki mengikuti semua permintaan dan bujukan dari seorang wanita, maka ia akan lemah hancurlah wibawa dan agamanya.

Laki-laki itu pemimpin wanita.

Laki-laki itu pembina wanita, bukan dibina.

Laki-laki itu pentarbiyah wanita.

Laki-laki itu penentu wanita, bukan ditentukan.

Laki-laki itu harus kuat agamanya dibandingkan wanita.

Laki-laki itu harus kuat akalnya dibandingkan wanita.

Laki-laki tidak haid dan nifas, sehingga tetap  shalat dan puasa, adapun wanita haid dan nifas.

Persaksian laki-laki berbeda dengan wanita.

Ingatlah wahai para laki-laki, bahwa Allah Ta'ala berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita." (Qs. An-Nisa': 34)

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menggoyangkan laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita.” (HR. Bukhari, no. 304)

Dan juga sabda Beliau yang lain: 

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً 

”Suatu kaum itu tidak akan bahagia apabila mereka menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita.” (HR. Bukhari, no. 4425)

Terkadang seorang laki-laki diatur dan dikendalikan itu tidak sadar, dengan alasan cinta dan sayang kepada pasangannya, namun kepercayaannya yang berlebihan menjadi malapetaka yang besar menzalimi rekan kerjanya, anak buahnya atau bahkan orang lain di luar lingkungan kerjanya, karena selalu mendengar semua kabar dari lisan pasangannya dan mengikuti kemauannya, maka bersiaplah menjadi laki-laki yang rusak dan sulit berpikir jernih.

Seorang laki-laki yang dikuasai pasangannya itu hakikatnya dia itu dipimpin oleh wanita, baik di dalam rumahnya atau lembaga pendidikan yang ia jadi pemimpinnya dan lingkungan pergaulannya. Dan dari hadits yang disebutkan di atas bahwa sangat jelas lah peringatan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa tidak akan pernah beruntung kepemimpinan dan urusan yang diputuskan oleh wanita.

Kebijakan yang dibuat dan tindakan yang dikerjakan itu mayoritas hasil dari informasi istrinya yang disampaikan kepada sang mudir, sehingga banyak keanehan dan kezaliman di dalam tim pesantren sendiri dan wali santri.

Kok bisa begitu ya?.

Kan sudah disebutkan diawal bahwa kesibukannya  itu di luar lembaga yang ia pimpin, dan yang menjadi pengawas malah istrinya. Adapun kepala sekolah atau bagian yang bertanggungjawab seringnya hanya untuk formalitas dan hiasan struktural, adapun prakteknya demikian keadaannya.

Laki-laki itu harus memiliki ilmu dan sikap, ketika ia mendapatkan suatu kabar dari istrinya:

1. Sikap suami mendengarkan dan mendukung, jika kabar dari istrinya itu adalah kabar kebaikan kaitan ingin menjalankan sebuah ibadah atau kata lain menjalankan ketaatan kepada Allah, maka wajib didukung dan bahkan diberikan modal.

2. Sikap suami cukup suami mendengarkan dan ditambahkan senyum, jika istrinya itu bercerita tentang fasilitas dan perlengkapan dunia yang lebih dari kalangan keluarga atau temannya.

3. Sikap suami mendengarkan dan langsung menasihati bahkan membantah, jika istrinya melakukan ghibah, adu domba, fitnah dan berbagai ucapan yang belum jelas kebenarannya.

Jika semua informasi yang bersumber dari lisan istrinya itu semua didengarkan dan didukung, maka tentu tindakan-tindakannya berlandaskan kelemahan dan tidak mampu untuk menjalankan tabayyun dan tatsabbut.

Dahulu ada orang yang berusaha menjalankan tugas yang diamanahkan, lalu ketika kajian yang diampunya itu lebih ramai dibandingkan sang mudir dan berbagai hal yang lain, maka istrinya mulai memberikan informasi yang tidak benar, bahwa "si fulan berusaha menguasai pondok ini", dan lebih aneh lagi, kabar seperti itu dipercaya, ya subhanallah!.

Bagaimana cara menguasai sebuah lembaga pendidikan, jika jelas-jelas yang mendominasi dan yang menjadi CCTV itu istrinya dan tentunya lagi sang suami sebagai mudir.

Benarlah apa yang disampaikan Syaikhul Islami Ibnu Taimiyah rahimahullah:

حب الرِّياسة هو أصل البغي والظلم

“Senang ditokohkan oleh orang lain (merasa unggul segalanya dari yang lain) adalah asal mula dari tindakan melampaui batas dan kedholiman.” (Majmûl fatâwâ, 18/162)

Merasa senior?.

Merasa lebih tinggi kedudukan dunianya?.

Ingin dinomor satukan?.

Selalu ingin didengar dan dihormati, tanpa diiringi saling mendengar dan menghormati.

Siapa kita ini?.

Hati-hatilah!.

Semua rasa ini adalah penyakit kronis yang bisa menghancurkan fitrah, ilmu, hati, amal dan agamamu.

Dan banyak kerusakan sudah terjadi dari da'i yang dikuasai istrinya:

1. Memanggil semua pengajar baik pengajar agama atau umum dengan sebutan ustadz/ustadzah.

2. Sudah terbukti mengorbitkan ustadz palsu semisal Asep Fuad, padahal dulu akan dijadikan tim yang lain bukan untuk mengajar agama, eh tidak tahunya sampai pernah mengajar santriwati jenjang 'ulya dan bahkan mengisi kajian keluar, setelah kaum muslimin mengetahui yang sebenarnya, Asep dipecat, karena khawatir terbongkar kualitas pengajarnya, namun Allah tetap bongkar berbagai kedustaannya tersebut.

3. Membolehkan untuk buka tutup cadar, baik untuk tim pengajar wanita, wali murid dan jamaah yang hadir di halaqohnya dengan fatwanya: "tidak apa-apa jika hadir ke kajian memakai cadar dan ketika di lingkungan rumah lepas, sambil belajar", ringan banget ucapannya, puluhan tahun para muslimah yang mengamalkan fatwa sesatnya itu tidak pernah ada yang benar-benar sampai menjalankan ibadah yang mulia yaitu mengenakan cadar sesuai contoh para istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabiyat radhiallahu 'anhunna, dan salah satu korban fatwanya itu istri paman penulis sendiri yaitu istri dari bapak Wahyudi sampai matinya menjalankan fatwa sesatnya yaitu buka tutup cadar, sehingga sebelum meninggalnya disiksa selama berbulan-bulan lamanya, karena termasuk melecehkan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Hukum cadar itu sudah penulis jelaskan, dengan judul artikel apa hukum bercadar?.

4. Dan masih banyak kerusakan yang ditimbulkan oleh da'i yang dikuasai oleh istrinya.

Sekitar pada tahun 2013 akhir, penulis memutuskan untuk cuti terlebih dahulu dan datanglah di sebuah malam untuk ijin secara baik-baik untuk cuti, dan di malam itu pembicaraan baik-baik saja, karena dijelaskan alasan yang sebenarnya yaitu banyak hutang yang harus segera dibayar.

Penulis mau mengambil cuti dikarenakan tanggungan utang yang harus dibayar, dan alasan lain tentunya kaitan dengan yang mendominasi mengawasi istrinya, sang suami hanya mendengar dan eksekusi saja dan semua pengajar dipanggil ustadz/ustadzah. Tidak ada sama sekali masalah lain dan urusan lain.

Tibalah waktu yang tidak disangka dan diduga, ada pesan masuk ke hp yang isinya kurang lebih: "dimana pun cuti maximal 12 hari, lebih dari itu dianggap menggundarkan diri, dan akan dicari penggantinya, penulis menjawab: "tidak apa-apa ustadz, jika harus dicari gantinya".

Demi Allah, penulis awalnya tidak ada niat untuk keluar dari lembaga tersebut. Karena memang putra asli daerah tersebut, namun karena setelah penulis menjawab sesuai dengan pesan yang masuk, maka fitnah dan berbagai tuduhan yang dilancarkan oleh sang mudir dan istri kepada penulis ini sangat keji dan semakin parah.

Apa yang terjadi setelah pesan yang masuk itu dijawab?.

1. Menebar fitnah dan bikin sandiwara, keluar dari ma'had tanpa izin, padahal buktinya izin dengan cara baik-baik.

2. Menebar fitnah bahwa penulis memprovokasi tim pengajar untuk tidak mau dibayar dengan digaji sangat kecil, meskipun memang faktanya dia terus menekan dengan ucapannya: "ngajar itu harus ikhlas sebagaimana surat Al-Ikhlas yang tidak ada kata ikhlasnya", namun ucapannya hanya pelindung untuk berbagai kebijakannya yang tak sesuai dengan dalil yang benar dan pemahaman sahabat yang benar.

3. Menebar fitnah bahwa penulis itu melawan ustadz yang lebih senior, dan diberitakan di tengah kaum muslimin bahwa sang mudir itu guru yang mendidik penulis sampai menjadi da'i, ini kedustaan, sang mudir hanya atasan di sebuah lembaga yang dahulu sama-sama merintis dan berusaha untuk dibesarkan.

4. Memasang para wanita untuk tajassus penulis, padahal di tanah kelahiran sendiri.

5. Dan berbagai fitnah yang disebarkan oleh sang mudir dan istrinya tentang penulis, sampai penulis pindah keluar kota saja, terus diganggu dakwah dan lembaga pendidikan yang dirintis dan diurus penulis, wallahul musta'an.

Penulis pernah mendapatkan pesan masuk dari nomor sang mudir, namun kata-kata dan kalimatnya jelas bukan bahasa keseharian sang mudir, maka penulis membalas "afwan umm, tolong tidak ikut campur urusan laki-laki umm, barakallahu fiik."

Setelah itu apa yang terjadi?.

Bertambah keji fitnah yang disebarkan, adu domba dan pengrusakan nama baik penulis dan kenyamanan istri dan anak-anak penulis pun semakin terganggu.

Dahulu penulis itu memiliki kelemahan, dan sang mudir itu paham kelemahannya tersebut, yaitu tidak mudah untuk cerita kepada siapa pun dari tekanan yang sedang dihadapi, sehingga pernah suatu ketika ngedrop dan jatuh sakit lalu dirawat RS di Karanganyar, sekarang berganti nama menjadi RSUD Kajen, Pekalongan.

Bude saya yang bernama Kisah rahimahallah yang datang untuk menjenguk, lalu memaksa saya untuk cerita apa yang sebenarnya terjadi, maka setelah diceritakan yang sebenarnya maka langsung berangsur membaik sakit yang dirasakan penulis, bude saya berpesan: "keluar dari situ, tidak mesti harus ngajar jika hasilnya hanya pikiran tertekan dan badan hancur, banyak jalan lain!", penulis: "merenung ketika itu".

Dan alhamdulillah penulis sudah hilang dari kelemahan masa lalu, pahamlah penulis bahwa ketika lemah itu tambah semakin diinjak.

Setelah itu penulis sibukan diri untuk terus menuntut ilmu dan upgrade ilmu, mengajar dan berdakwah, baik secara offline maupun online.

Penulis itu sudah malas mengurusinya dan tidak ada urusan lagi sama dia beserta istrinya yang terus memfitnah penulis dengan berbagai tuduhan, drama dan berbagai macam caranya, sudah enggan untuk menanggapinya, tak berfaidah mengurusi keanehannya, rugi umur dan waktu jika hanya tersibukan mengurusi orang seperti itu. Karena Allah pasti akan membalas semua kejahatannya itu, baik di kehidupam dunia maupun di akhirat.

Namun, kenapa tetap dijelaskan?.

Karena dalam rangka menjalankan perintah Allah dan Nabi-Nya untuk amar ma'ruf dan nahi mungkar dari bahaya dan kerusakan yang ditimbulkan oleh "da'i yang dikuasai istrinya" dan menjelaskan ke umat untuk wajib berhati-hati dan selektif ketika akan hadir ke kajian untuk menuntut ilmu atau menyekolahkan anak-anak mereka, agar tidak salah ustadz dan menyesal di kemudian hari.

Dan jika sang mudir merasa dikuliti dengan tulisan ini, maka ini adalah hak jawab penulis dan membela kehormatan diri yang bertahun-tahun lamanya yang telah dirusak oleh sang mudir dan istrinya.

Wahai mukmin, akhirat taruhanmu!.

Jangan berteman dengan orang yang merusak kehormatan muslim yang lain dengan menebar fitnah, tukang fitnah atau adu domba!.

Meskipun ia nampak tidak melakukan transaksi riba, semisal KPR rumah, kredit mobil atau motor via leasing, meminjam modal via bank atau BANGKE (Bank Keliling), namun lisannya menghancurkan kehormatan muslim yang lain, maka dia itu pelaku riba yang paling besar dan parah!.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 

وَإِنَّ أَرْبَى اَلرِّبَا عِرْضُ اَلرَّجُلِ اَلْمُسْلِمِ

"Dan sesungguhnya dosa riba yang paling berat adalah seorang menjatuhkan (merusak) kehormatan muslim yang lain." (HR. Ibnu Mâjah dan Al Hâkim)

Dan yang lebih penting lagi, jangan sampai anda mengambil ilmu kepada da'i tukang fitnah, adu domba, dikuasai istrinya dan terbukti mengorbitkan ustadz palsu dan mendukung khotib palsu, dan jangan pula jadikan anak-anak anda sebagai kelinci percobaan dengan menyekolahkan di lembaga yang ia pimpin!.

Dan dahulu penulis diberikan nasihat oleh Al-Ustadz Al-Walid Abul Abbas Khalid Syamhudi, Lc hafidzahullah: "ya akhi, jangan gabung dengan si fulan (Abu Hudzaifah Tasiwan) karena tidak baik untuk antum, cari lembaga lain saja!".

Benarlah nasihat beliau hafidzahullah, karena penulis dahulu dirayu dan dibuai oleh sang mudir: "antum putra daerah Pekalongan, dan daerah antum sangat butuh, dan juga demikian dengan ma'had yang sedang dirintis", tanpa paham yang mendalam karakter asli sang mudir.

Semoga Allah terus memberikan taufiq-Nya untuk menjaga keikhlasan penulis yang fakir ini dalam menulis fakta ini dan melindungi kaum dari para perusak fitrah, ilmu, iman, akhlak dan muamalah kaum muslimin semisal perilaku sang mudir dimana pun berada. آمين

نسأل الله الإخلاص و الثبات على الحق

•┈┈➖•◈◉✹❒📖❒✹◉◈•➖┈┈•

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين،

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين




Posting Komentar